Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Aksesoris Rumah Tangga dari Kantong Teh Celup Bekas, Inovasi Mahasiswa Universitas Surabaya

Andy Satria • Jumat, 12 Desember 2025 | 04:49 WIB
KREASI MAHASISWA: Jeanne Theresia Mintarja, mahasiswa FIK Universitas Surabaya, menunjukkan proses pembuatan dekorasi rumah dengan menggunakan ampas teh celup, Kamis (11/12).
KREASI MAHASISWA: Jeanne Theresia Mintarja, mahasiswa FIK Universitas Surabaya, menunjukkan proses pembuatan dekorasi rumah dengan menggunakan ampas teh celup, Kamis (11/12).

RADAR SURABAYA - Limbah kantong teh celup biasanya langsung dibuang begitu saja.

Namun, di tangan kreatif Jeanne Theresia Mintarja, mahasiswa Tugas Akhir Program Studi Desain dan Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya), ampas teh justru disulap menjadi produk dekorasi rumah yang estetik dan berkelanjutan.

Mengusung merek “Dipt”, Jeanne berhasil menciptakan berbagai dekorasi rumah seperti jam meja, lampu meja, tray atau nampan, hingga catur mini.

Seluruh produk itu dibuat dari kantong teh celup bekas yang diolah kembali menjadi material padat maupun lembaran.

Jeanne menuturkan, ide tersebut muncul dari kebiasaan keluarganya yang rutin mengonsumsi teh.

Ia kemudian menemukan informasi bahwa kantong teh celup mengandung mikroplastik dan dapat mencemari lingkungan apabila dibuang sembarangan.

“Itu yang jadi inspirasi utama. Sayang kalau limbahnya langsung dibuang. Saya ingin mengolahnya jadi sesuatu yang berguna,” jelasnya, Kamis (11/12).

Proses penelitian dan pembuatan produk berlangsung cukup panjang. Sejak mengajukan judul pada semester lima, Jeanne memulai pengumpulan limbah teh, menyortir warna kantong, hingga merancang bentuk produk yang bisa diterima masyarakat.

“Yang paling susah menentukan produknya. Karena ini fokusnya material, saya harus memastikan produk tetap berfungsi, estetik, dan memiliki karakter,” ujarnya.

Tahap pengolahan dimulai dari memisahkan kantong teh berdasarkan warna, kemudian memblendernya dengan air.

Bubur teh tersebut dipilih untuk dijadikan lembaran seperti kertas daur ulang atau dicetak menjadi padatan sesuai kebutuhan desain.

“Kalau mau bentuk padat harus dicetak dan dipadatkan dulu. Setelah kering, semua dipernis dan diamplas biar halus,” kata Jeanne.

Dalam pengerjaannya, Jeanne didampingi dosen pembimbingnya.

Teknik pencetakan dilakukan secara manual, dengan proses pengeringan 2–3 hari menggunakan panas matahari.

Setelah kering, ditambahkan komponen seperti lampu, baterai, atau mesin jam.

Menurut Jeanne, minimnya referensi dan penelitian terdahulu menjadi tantangan tersendiri.

Ia bahkan beberapa kali gagal dalam menyatukan material kayu dan kantong teh yang telah dicetak.

“Yang sulit itu menjaga konsistensi bahan dan ketahanannya,” tambahnya.

Meski begitu, Jeanne ingin terus mengembangkan produk Dipt, terutama dalam variasi warna dan kerapian finishing.

Untuk saat ini, ia masih fokus pada tiga jenis produk yakni tatakan, jam meja, dan lampu meja.

Ketiganya akan diperhalus dari segi estetika sebelum dipasarkan lebih luas.

Produk Dipt rencananya mulai dijual saat pameran Grade X, pagelaran tugas akhir mahasiswa Desain dan Manajemen Produk FIK Ubaya, Januari mendatang.

Harga produknya dibanderol mulai Rp 100 ribuan, menyesuaikan bentuk dan tingkat kerumitan pengerjaan.

Jeanne berharap karyanya dapat menjadi contoh bahwa limbah sehari-hari bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi.

“Tidak menutup kemungkinan nanti bisa diproduksi masif. Tapi saya ingin memastikan kualitasnya matang dulu. Banyak potensi bentuk produk yang masih bisa dieksplor,” pungkasnya. (sam/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#kantong #teh celup #Aksesoris #universitas surabaya #bekas #mikroplastik #ubaya #Radar Surabaya #dekorasi