RADAR SURABAYA – SPBU nelayan di pesisir Surabaya berhenti beroperasi selama tiga bulan terakhir akibat biaya operasional yang tak mencukupi. Itu membuat nelayan kehilangan akses solar bersubsidi dan terpaksa membeli BBM lebih mahal di pengecer. Pendapatan bersih SPBU tidak mampu mengimbangi beban rutin, mulai dari wifi hingga listrik.
Margin Terlalu Tipis
Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Surabaya Achmad Syukron menjelaskan, SPBU selama ini hanya mendapat margin Rp 180 per liter. Dari satu tangki berisi dua ribu liter solar, pendapatan bersih maksimal hanya sekitar Rp 360 ribu per bulan.
”Memang kami tidak mengejar keuntungan, tapi dengan margin segitu sangat sulit bertahan,” katanya kemarin (10/12).
Sedangkan biaya operasional jauh lebih besar dari pemasukan. Ada kewajiban pembayaran wifi Rp 250 ribu per bulan serta tagihan air dan listrik sekitar Rp 200 ribu. Belum termasuk biaya pegawai, perawatan pompa, serta administrasi perizinan.
”Biayanya lebih besar dari pemasukan, masih minus Rp 90 ribu,” ujarnya.
Beli ke Pengecer
Setelah SPBU tutup, nelayan tak lagi bisa membeli solar bersubsidi Rp 6.800 per liter dan harus beralih ke pengecer dengan harga Rp 10 ribu. ”Selisihnya jauh sekali jika beli di pengecer,” ucap Syukron. Dengan kebutuhan tiga hingga lima liter solar untuk sekali melaut, biaya operasional nelayan melonjak. Banyak yang mengurangi frekuensi melaut atau merogoh uang tabungan.
”Mereka jadi serba berat. Kalau saya ambil rata-rata per hari hanya dapat Rp 100 ribu hasil mencari ikan,” katanya.
Iuran Gotong-royong
Di sisi lain, Syukron menegaskan bahwa SPBU nelayan memang tak pernah ditujukan sebagai usaha komersial dan margin memang kecil. Tujuannya hanya untuk membantu nelayan mendapatkan BBM resmi dan terjangkau. Kini, pihaknya menyiapkan skema agar layanan bisa kembali berjalan, salah satunya dengan iuran gotong-royong. ”Ini masih dalam pembahasan, usulannya iuran sukarela Rp 2 ribu per liter,” imbuhnya.
Harapannya, SPBU nelayan dapat kembali aktif karena keberadaannya dinilai vital untuk menjaga biaya melaut tetap rendah. Menurutnya, tanpa akses solar bersubsidi, posisi nelayan semakin rentan. Seorang nelayan asal Nambangan, Abdul Jamil, juga mengakui pentingnya layanan SPBU tersebut. Sebab, dirinya pun kini mau tak mau harus membeli dari pengecer seharga Rp 10 ribu. ”Sangat membantu sekali untuk biaya operasional,” ungkapnya. (dho/ama/vga)
Editor : Vega Dwi Arista