RADAR SURABAYA - Di balik kesibukan ruang kelas dan hiruk-pikuk kegiatan sekolah, tiga murid SMA Kristen Petra 5 Surabaya justru menemukan prestasi mereka dari tempat yang tak biasa yaitu laboratorium penelitian. Mereka adalah Kayleen Aurelia Indrawan, Josefina Citra Kristianto, dan Cherrylin Aurelia Chandra, murid kelas XII ini berhasil meraih medali emas dan Best Poster dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) di ajang FIKKIA Olympiad and Research Competition (IMPACT) 2025 yang digelar 12–15 September 2025 di Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga Banyuwangi.
Karya ilmiah yang mengangkat judul “Fortifikasi Mbore (Mbote Rice) sebagai Inovasi Beras Rendah Gula untuk Mendukung Pengendalian Diabetes Melitus Tipe 2” sebuah tema yang lahir dari keprihatinan mereka melihat tingginya kasus diabetes di Indonesia. Pada 2024, jumlah penderita Diabetes Melitus (DM) mencapai 20,4 juta jiwa, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan prevalensi tertinggi.
"Masyarakat sering berasumsi bahwa belum makan jika belum mengonsumsi nasi putih yang memiliki kandungan gula tinggi. Dari sinilah kami mulai bertanya, apakah tidak ada alternatif beras yang lebih aman, untuk konsumsi penderita diabetes melitus?" ungkap Kayleen, ketua tim, kepada Radar Surabaya, Kamis (4/12).
Pertanyaan sederhana itu membawa mereka menyusuri penelitian tentang umbi Mbote (Colocasia esculenta), bahan pangan lokal kaya pati resisten. Dari situlah mereka mengembangkan Mbore (Mbote Rice) beras analog yang dirancang sebagai alternatif rendah glikemik untuk masyarakat, terutama penderita DM tipe 2.
“Dengan metode eksperimen laboratorium murni serta dukungan kerja sama dengan Laboratorium Politeknik Kesehatan Malang, mereka melaksanakan rangkaian uji proksimat, organoleptik, hingga analisis fisikokimia sesuai standar SNI. Seluruh prosedur tersebut dilakukan menggunakan rancangan percobaan RAL dengan tiga kali pengulangan,” jelas Ninik Suprapti, pembimbing sekaligus guru mata pelajaran Biologi.
Hasilnya mengejutkan Indeks Glikemik (IG) MboRe hanya 35, masuk kategori rendah. Kadar protein 8,3%, lebih tinggi dari beras putih biasa (6–7%) Kadar air rendah 10,1% dan energi lebih kecil (341 kkal/100 g). Mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, dan tanin yang berpotensi antidiabetik.
Yang lebih menggembirakan, dari sisi rasa, MboRe mendapat skor tinggi pada uji organoleptik: warna (8,1), rasa (8,1), aroma (8,0), dan tekstur (8,2). “Kami kaget waktu panelis bilang rasanya enak dan aromanya lembut,” cerita Cherrylin sambil tersenyum.
Metode ekstrusi menjadi tahap paling menarik bagi tim karena seluruh ide dan bahan yang telah dirancang sebelumnya akhirnya diuji melalui proses yang terukur. Tahapannya dimulai dari formulasi, yaitu mencampur tepung Mbothe dengan karagenan dari rumput laut, mineral, dan hidrokoloid hingga menjadi adonan yang homogen.
Adonan kemudian masuk ke tahap prekondisi, dipanaskan pada suhu 80–90°C agar lebih plastis dan mudah dibentuk. Setelah itu, proses ekstrusi dilakukan untuk mencetak adonan menjadi butiran yang menyerupai beras. Tahap terakhir adalah pengeringan, yang bertujuan memastikan butiran beras hasil ekstrusi menjadi stabil, awet, dan tahan disimpan.
Tahap-tahap tersebut bukan hanya kompleks secara teknis, tetapi juga mengajarkan ketiganya tentang ketelitian, ketahanan mental, hingga manajemen waktu. “Kami pernah gagal beberapa kali. Teksturnya keras, atau warnanya tidak merata, tapi setiap kegagalan itu justru bikin kami lebih paham,” ujar Josefina.
Keberhasilan ini bukan hanya kemenangan tim, tetapi juga buah dari komitmen sekolah dalam membangun budaya riset. Kepala SMA Kristen Petra 5 Surabaya, Cahyo Fajariati, menegaskan bahwa penelitian telah menjadi bagian strategi sekolah untuk mempersiapkan siswa masuk perguruan tinggi negeri.
“Kami ingin mengembangkan penelitian karya ilmiah sebagai salah satu cara untuk bisa tembus di perguruan tinggi negeri. Animo anak-anak untuk masuk PTN sangat tinggi,” jelasnya.
IMPACT 2025 menjadi bukti nyata bahwa siswa-siswi SMA Kristen Petra 5 tidak hanya belajar untuk meraih nilai, tetapi juga berkarya menghasilkan inovasi yang memberi manfaat bagi masyarakat. Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen sekolah menuju predikat Sekolah Peneliti Muda.
Dengan medali emas di tangan, ketiga peneliti muda ini berharap hasil penelitian mereka dapat dikembangkan lebih lanjut. Tidak hanya sebagai karya ilmiah, tetapi juga menjadi alternatif pangan sehat bagi masyarakat luas.
“Kami ingin Mbore suatu hari bisa diproduksi massal dan membantu banyak orang,” tutup Kayleen penuh harapan.
Dari sebuah umbi lokal hingga berdiri di podium juara, perjalanan mereka menunjukkan bahwa inovasi besar bisa lahir dari rasa peduli dan keberanian untuk mencoba. (ind/gun)
Editor : Guntur Irianto