Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ancaman Disinformasi Global, DPRD Surabaya Ajak Mahasiswa Jadi Agen Kebenaran

Dimas Mahendra • Rabu, 26 November 2025 | 17:14 WIB
AGEN PERUBAHAN: DPRD Surabaya saat bertemu dengan mahasiswa. Ia berpesan mahasiswa bisa mencegah disinformasi di masyarakat. (IST/RADAR SURABAYA)
AGEN PERUBAHAN: DPRD Surabaya saat bertemu dengan mahasiswa. Ia berpesan mahasiswa bisa mencegah disinformasi di masyarakat. (IST/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA — Di tengah meningkatnya ancaman disinformasi yang menjadi instrumen baru perebutan pengaruh global, DPRD Surabaya menyerukan kampus agar menjadi ruang lahirnya agent of truth. Seruan itu disampaikan Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, saat berdialog dengan dosen dan mahasiswa tujuh fakultas Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Rabu (25/11/2025).

Momentum Hari Guru Nasional dimanfaatkan legislator Partai Golkar tersebut untuk mengingatkan bahwa “nilai kepahlawanan zaman kini” bukan lagi hanya persoalan keberanian fisik, tetapi kemampuan menjaga kebenaran di tengah banjir informasi digital.

"Kami berdiskusi mengenai penerapan nilai nilai kepahlawanan jaman now," tuturnya.

Dalam pemaparannya, Arif Fathoni menyebut Indonesia berada pada posisi geopolitik strategis sehingga rentan menjadi medan pengaruh kekuatan global yang saling berseteru. Upaya melemahkan Indonesia, menurutnya, kini tidak lagi menggunakan militer, tetapi distorsi dan disrupsi informasi.

"Yang paling mungkin dilakukan adalah melemahkan kekuatan utama bangsa ini yakni persatuan dan kesatuan," tegasnya.

Ia mengatakan bahwa keberagaman Indonesia adalah kekuatan besar yang harus dijaga. Dalam konteks ancaman global, mahasiswa, melalui literasi dan penguasaan teknologi, harus menjadi penjaga kebenaran di lini pertama.

"Upaya melemahkan tidak lagi dilakukan dengan pengerahan militer asing, namun cukup dengan distorsi informasi dan distrupsi informasi yang disebar tanpa henti di ruang-ruang media sosial," ujarnya.

Pria yang akrab disapa Mas Toni itu menilai derasnya arus informasi membuat masyarakat semakin sulit membedakan fakta dan manipulasi. Karena itu, mahasiswa tak cukup hanya menjadi agent of change.

“Saya mengajak mahasiswa UWKS Surabaya tidak hanya sekedar menjadi agent of change, tapi juga menjadi agent of truth, inilah salah satu implementasi nilai kepahlawanan jaman now,” tuturnya.

Menurutnya, kampus harus berdiri di garis depan membangun literasi digital, menyediakan ruang diskusi sehat, dan memperkuat kemampuan mahasiswa mengidentifikasi pola disinformasi yang berpotensi memecah bangsa.

Arif Fathoni juga menyinggung langkah Pemerintah Kota Surabaya dalam menghadirkan Kampung Pancasila sebagai ruang berlatih nilai kebangsaan di tingkat masyarakat.

"Upaya untuk menumbuhkan nilai nilai kepahlawanan juga dilakukan dengan pembentukan kampung pancasila oleh Pemkot Surabaya," jelasnya.

Ia berharap kampung Pancasila bukan sekadar simbol, tetapi menjadi ekosistem sosial tempat Pancasila benar-benar hidup dalam keseharian.

“Kami berharap melalui kampung pancasila ini, ideologi Pancasila dapat hidup dalam nadi relasi sosial antar warga di setiap kampung,” pungkasnya. (dim/gun)

Editor : Guntur Irianto
#disinformasi global #berita pemerintahan #disinformasi digital #disinformasi #Global #dewan #agen of change #mahasiswa #fakta #Universitas Wijaya Kusuma Surabaya #terbaru #bertemu #berita surabaya #berita surabaya hari ini #kebenaran #dprd #dprd surabaya #UWKS