Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Bahaya Mikroplastik Ancam Kesehatan Masyarakat, Pakar Biologi Surabaya Ingatkan Dampak Serius bagi Tubuh

Andy Satria • Minggu, 9 November 2025 | 20:18 WIB

 

KAMPANYE ANTI MIKROPLASTIK: Sejumlah aktivis lingkungan Ecoton menggelar aksi terkait bahaya mikroplastik pada tubuh manusia, beberapa waktu lalu.
KAMPANYE ANTI MIKROPLASTIK: Sejumlah aktivis lingkungan Ecoton menggelar aksi terkait bahaya mikroplastik pada tubuh manusia, beberapa waktu lalu.

RADAR SURABAYA - Mikroplastik kini tak lagi menjadi isu lingkungan semata. Partikel plastik berukuran sangat kecil itu mulai mengancam kesehatan manusia.

Dosen Biologi Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Nurhidayatullah Romadhon, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai bahaya mikroplastik yang kini terdeteksi dalam udara, darah, hingga jaringan tubuh manusia.

“Ini bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga isu biologis dan kesehatan publik. Mikroplastik berukuran sangat kecil, bahkan lebih kecil dari partikel debu, sehingga mudah terhirup ke dalam paru-paru,” ujarnya, Minggu (9/11).

Ia menjelaskan, hasil riset terbaru yang dipublikasikan oleh Winiarska dkk. dalam Environmental Research tahun 2024m menunjukkan partikel mikro dan nanoplastik dapat menembus sistem pernapasan, tertimbun di jaringan paru, bahkan masuk ke aliran darah manusia.

“Dalam beberapa penelitian, mikroplastik juga ditemukan di plasenta, hati, dan otak manusia. Artinya, partikel plastik sudah menembus batas biologis tubuh manusia,” terangnya.

Nurhidayat menegaskan, dampak mikroplastik terhadap kesehatan tidak bisa dianggap remeh.

Akumulasi partikel plastik dapat memicu peradangan, stres oksidatif, gangguan hormon, bahkan kerusakan DNA di tingkat sel.

Paparan jangka panjang juga berpotensi meningkatkan risiko penyakit pernapasan kronis dan gangguan metabolisme.

“Fakta ini memperkuat pandangan bahwa mikroplastik bukan hanya masalah estetika lingkungan, melainkan ancaman biologis yang nyata,” tegasnya.

Ia menambahkan, riset terbaru Ecoton bersama Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) menemukan fakta mencengangkan, udara di wilayah Gresik mengandung mikroplastik dalam jumlah tertinggi di Indonesia.

Dalam penelitian tersebut, ditemukan 76 partikel mikroplastik dalam 26 sampel darah, 117 partikel dalam 11 sampel air ketuban, dan 52 partikel dalam urin ibu hamil.

“Hasil itu bukan sekadar angka statistik, tapi peringatan keras bahwa polusi plastik telah menembus ruang hidup paling vital, yaitu udara yang kita hirup setiap hari,” jelasnya.

Meski begitu, ia menilai studi lanjutan masih dibutuhkan untuk memahami dimensi biologis dan temporal dari paparan mikroplastik di udara.

“Durasi pengambilan sampel yang singkat belum cukup menggambarkan variasi musiman atau perbedaan antara wilayah industri dan permukiman,” tambahnya.

Menurut Nurhidayat, dunia pendidikan memiliki peran penting dalam menghadapi masalah ini. Mahasiswa biologi dapat dilibatkan untuk meneliti keberadaan mikroplastik di lingkungan kampus atau wilayah perkotaan.

Selain itu, kolaborasi lintas disiplin juga perlu dilakukan. “Misalnya, antara biologi dan desain komunikasi visual untuk membuat kampanye edukatif dan infografis publik tentang bahaya mikroplastik di udara,” ujarnya.

Ia menilai masih banyak masyarakat yang berpikir bahwa plastik hanya mencemari laut atau perairan, padahal udara yang kita hirup setiap hari kini juga sudah tidak bebas dari partikel plastik yang tak kasat mata.

“Mikroplastik ukurannya kecil, tetapi dampaknya besar bagi kesehatan makhluk hidup. Ia bisa menumpuk di tubuh dan perlahan merusak keseimbangan alam yang menopang kehidupan,” katanya.

“Pengelolaan plastik tidak boleh hanya berhenti pada ajakan kurangi kantong plastik. Kita perlu meninjau kembali seluruh rantai penyebab, mulai dari pakaian sintetis, pembakaran sampah, hingga proses industri yang menghasilkan polusi udara tak terlihat namun mematikan,” pungkasnya. (sam/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#um surabaya #kesehatan publik #jaringan tubuh #polusi udara #mikroplastik #Terdeteksi #pencemaran #Radar Surabaya