Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Langit Surabaya Buram, BMKG Pastikan Fenomena Udara Kabur Bukan Asap

Muhammad Firman Syah • Senin, 13 Oktober 2025 | 21:08 WIB
Ilustrasi fenomena udara kabur.
Ilustrasi fenomena udara kabur.

Surabaya – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena udara kabur terjadi di Surabaya, Jawa Timur, pada Senin (13/10). Kondisi ini membuat langit tampak buram dan jarak pandang berkurang, meski tidak separah kabut tebal yang biasa terjadi di daerah pegunungan.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa udara kabur terjadi akibat partikel halus atau aerosol yang tersebar di atmosfer sehingga menghamburkan cahaya matahari.

“Udara kabur bukan kabut tebal, tapi kabut tipis yang membuat langit tampak buram atau keputihan,” jelasnya.

Fenomena ini muncul karena kombinasi kelembapan tinggi, polusi, dan partikel halus dari aktivitas manusia seperti emisi kendaraan, industri, serta pembakaran terbuka. Faktor alami seperti debu dan uap air juga dapat memperparah kondisi tersebut.

Secara visual, udara kabur membuat langit tampak putih keabu-abuan atau kekuningan, tergantung komposisi partikel di udara. Meskipun jarak pandang berkurang, BMKG menegaskan kondisi ini tidak menurunkan jarak pandang secara ekstrem.

“Biasanya jarak pandang masih di atas dua kilometer, hanya saja tidak sejelas biasanya,” tegas Guswanto.

Dalam prakiraan cuaca hari ini, Surabaya menjadi satu-satunya kota di Pulau Jawa yang mengalami udara kabur. Kota besar lain seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Semarang hanya mengalami hujan ringan, sementara Pekanbaru dilaporkan mengalami kabut tipis dengan karakter serupa. Faktor lokal seperti polusi udara perkotaan dan suhu permukaan tinggi turut memengaruhi munculnya fenomena ini.

“Kondisi ini dipengaruhi oleh konsentrasi aerosol dan kelembapan yang cukup tinggi di atmosfer,” tambah Guswanto.

Prakirawan BMKG, Zen Putri, menegaskan bahwa udara kabur bersifat sementara dan tidak berbahaya. Namun, masyarakat disarankan tetap waspada karena fenomena ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi aktivitas di luar ruangan.

“Masyarakat sebaiknya menghindari aktivitas berat di luar ruangan dan menggunakan masker bila udara terasa pengap,” ujarnya.

BMKG memprediksi suhu udara di Surabaya hari ini berkisar 32–35 derajat Celsius dengan kelembapan tinggi, kondisi yang mendukung munculnya udara kabur. Fenomena ini secara ilmiah mirip dengan smog atau asap kabut tipis yang biasa terjadi saat musim kemarau atau ketika polutan di udara meningkat. (wid/fir)

Editor : M Firman Syah
#udara #suhu #BMKG #kabut tebal #jarak pandang