RADAR SURABAYA - Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) meresmikan Global Hub, sebuah ruang representatif yang didedikasikan bagi mahasiswa asing, bertempat di lantai 11 Gedung At-Taawun Tower, Selasa (7/10).
Ruang berdesain modern ini tidak sekadar menjadi tempat belajar, melainkan pusat aktivitas akademik dan nonakademik yang mengusung semangat keterbukaan dan persaudaraan lintas bangsa.
Bersama Rektor UM Surabaya, para mahasiswa asing dari berbagai negara menancapkan bendera kebangsaan mereka di peta dunia sebagai simbol perdamaian dan solidaritas global.
Sebagai cerminan dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif dan lintas budaya, di tengah dinamika global yang penuh tantangan.
Kepala Lembaga Kerja Sama Internasional (LKI) UM Surabaya, Yuanita Wulandari, menjelaskan bahwa jumlah mahasiswa asing tahun ini menunjukkan peningkatan signifikan.
Mereka berasal dari berbagai negara seperti Thailand, Kamboja, Filipina, Malaysia, Timor Leste, Mali, Sudan, Yaman, Afghanistan, Pakistan, hingga beberapa negara Eropa.
“Global Hub ini bagian dari langkah konkret UM Surabaya menuju universitas berdaya saing global yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan,” ungkap Yuanita.
Sementara itu Rektor UM Surabaya Mundakir, Global Hub bukan hanya sarana fisik, melainkan juga simbol perubahan mindset menuju atmosfer internasional.
“Kami ingin UM Surabaya semakin terbuka, memperluas jaringan tidak hanya di kawasan ASEAN, tetapi juga Asia dan Eropa,” ujarnya.
Saat ini, terdapat 39 mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di UM Surabaya dan tersebar di berbagai fakultas.
Mereka mendapatkan beasiswa pendidikan, sementara biaya hidup ditanggung secara mandiri.
Rektor Mundakir berharap keberadaan Global Hub dan dua program pendukungnya dapat memperkuat tiga pilar perguruan tinggi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat dengan semangat fastabiqul khairat atau berlomba dalam kebaikan.
“Melalui Global Hub, Global Culture Crossroad, dan GENIUS Program, kami ingin menjadikan UM Surabaya sebagai Global Islamic University yang mencerahkan dunia dengan ilmu, iman, dan kasih sayang,” pungkasnya.
Salah satu mahasiswa asing, Eissa Thabit asal Sudan, mengaku bangga bisa belajar di kampus tersebut.
“Saya memilih jurusan Teknik Informatika karena direkomendasikan teman dan melihat reputasi kampus yang bagus,” tuturnya. (sam)
Editor : Nofilawati Anisa