RADAR SURABAYA - Galeri Prabangkara, Kompleks Taman Budaya Jawa Timur, tengah dipenuhi aroma nostalgia.
Mulai tanggal 9 hingga 14 Agustus 2025, seniman grafis Arief Wong asal Sidoarjo, menggelar pameran tunggal cetak tinggi bertajuk Merayu Waktu.
Pameran ini lahir dari kisah personal Arief. Inspirasi utamanya datang dari sebuah boneka.
Yakni hadiah dari sang ibu saat ia berusia empat tahun sempat hilang dan kembali ke tangannya menjelang ibunya berpulang.
“Boneka itu membawa saya ke ingatan masa kecil. Dari situlah lahir ide untuk merangkai karya yang bercerita tentang perjalanan hidup,” tutur lulusan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya ini, Senin (11/8).
Arief, yang menekuni seni grafis cetak tinggi dengan teknik cukil sejak 2007, menghadirkan 60 karya pada pameran ini.
Satu di antaranya langsung terjual saat pembukaan.
Seluruh karyanya berangkat dari kisah pribadi, dikerjakan dengan proses teliti yang bisa memakan waktu hingga sepekan untuk satu karya, terutama jika memadukan banyak lapisan warna.
Meski memiliki daya tarik unik, seni grafis cetak tinggi masih jarang digarap serius di Indonesia.
“Bahan-bahannya mahal dan sebagian besar harus diimpor. Tapi saya ingin terus eksis untuk melestarikan teknik ini,” ujar Arief.
Kurator pameran, Agus Koecink, dikutip dari katalog pameran menilai karya Arief membawa warna segar di dunia seni rupa Jawa Timur.
“Seni grafis cukil belum banyak mendapat perhatian. Seni lukis masih mendominasi, padahal teknik ini juga memiliki nilai artistik tinggi dan diajarkan di perguruan tinggi seni,” tulisnya.
Melalui Merayu Waktu, Arief tak sekadar memamerkan karya visual.
Ia mengajak penikmat seni untuk berdialog dengan waktu, menghidupkan kembali kenangan yang pernah ada, yang layak untuk dikisahkan kembali. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa