Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pakar Internasional dari Dua Negara Bahas Bambu di Universitas Ciputra Surabaya

Rahmat Sudrajat • Rabu, 6 Agustus 2025 | 13:28 WIB
KIPRAH: Stephanus Evert Indrawan, Dosen Prodi Arsitektur Universitas Ciputra menyebut bambu merupakan kekayaan khas negara tropis yang menyimpan potensi besar sebagai material konstruksi masa depan.
KIPRAH: Stephanus Evert Indrawan, Dosen Prodi Arsitektur Universitas Ciputra menyebut bambu merupakan kekayaan khas negara tropis yang menyimpan potensi besar sebagai material konstruksi masa depan.

RADAR SURABAYA - Program Studi Arsitektur Universitas Ciputra (ARS UC) kembali menunjukkan kiprahnya di kancah internasional melalui partisipasi aktif dalam Bamboo Nation.

Sebuah konsorsium studi bambu yang melibatkan tiga universitas di Indonesia, yakni Universitas Ciputra, Universitas Katolik Parahyangan, dan Universitas Kristen Petra serta Xi’an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU) dari Tiongkok.

Konsorsium ini fokus pada pengembangan kinetic structure berbasis bambu dengan pendekatan kontemporer, menggabungkan desain parametrik, simulasi struktural, dan fabrikasi digital.

Workshop Bamboo Nation yang berlangsung selama tiga hari ini diawali di Universitas Kristen Petra dan dilanjutkan di Universitas Ciputra, dengan ARS UC berperan sebagai inisiator dan tuan rumah.

Mahasiswa dan dosen ARS UC aktif berpartisipasi dalam sesi workshop dan diskusi publik bersama pakar internasional.

Bahkan secara langsung mendesain dan membangun struktur eksperimental berbasis sistem kinetik dari bambu memanfaatkan laboratorium fabrikasi digital Universitas Ciputra.

Salah satu narasumber utama, Stephanus Evert Indrawan, dosen ARS UC dan pakar komputasi desain dan arsitektur digital, memaparkan pendekatan adaptive joinery system pada bambu.

Sistem sambungan adaptif ini dirancang untuk menciptakan struktur yang responsif, terutama di daerah rawan bencana.

“Bambu merupakan kekayaan khas negara tropis yang menyimpan potensi besar sebagai material konstruksi masa depan,” ujar Evert, Selasa (5/8).

Melalui pendekatan konstruksi yang tidak konvensional seperti komputasi dan desain parametrik, bambu mampu membentuk wajah arsitektur masa kini.

Bambu juga mampu menjawab kebutuhan keberlanjutan secara menyeluruh.

Evert juga menekankan pentingnya riset dan inovasi dalam pemanfaatan bambu di Indonesia.

"Dengan integrasi teknologi seperti desain parametrik dan fabrikasi digital, bambu tidak hanya menjadi elemen estetis, tetapi juga bagian dari sistem struktur yang efisien dan ramah lingkungan," tuturnya.

Kepala Program Studi Arsitektur Universitas Ciputra, Melania Rahadiyanti, menjelaskan sebagai inisiator dan tuan rumah dalam Bamboo Nation, ARS Universitas Ciputra memberikan kontribusi nyata dalam mengintegrasikan desain parametrik, simulasi struktur kinetik, dan fabrikasi digital ke dalam eksplorasi material bambu.

"Dengan pendekatan ini, kami membuktikan bahwa bambu bukan lagi bahan tradisional semata, melainkan material masa depan yang berpotensi setara dengan serat karbon ramah lingkungan, lokal, dan berkelanjutan," jelasnya.

Partisipasi ARS UC dalam Bamboo Nation merupakan wujud nyata komitmen Universitas Ciputra dalam memadukan kearifan lokal dan orientasi global, sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) dan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Keikutsertaan ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan global arsitektur berkelanjutan dan membangun jejaring internasional untuk riset dan pengembangan material lokal. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#Keberlanjutan #arsitektur #Tiongkok #pakar #material alami #bambu #Internasional #bamboo nation #universitas ciputra #desain