Surabaya – Makam Belanda Peneleh kini tak lagi berfungsi sebagai tempat pemakaman aktif. Namun kawasan ini tetap menyimpan jejak sejarah panjang Kota Surabaya, mulai dari masa kolonial hingga pascarevolusi. Di balik batu-batu nisan tua yang berdiri kokoh, tersimpan kisah tokoh-tokoh penting yang pernah hidup dan mengabdi di kota ini.
Sejak diresmikan pada 1847 hingga ditutup pada 1947, kompleks pemakaman ini melayani pemakaman warga Eropa dari berbagai kebangsaan yang tinggal di Surabaya. Tak hanya warga Belanda, makam ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi warga Inggris, Prancis, Jerman, hingga Italia.
“Di sini tidak hanya melayani pemakaman orang Belanda tetapi melayani orang-orang yang berasal dari negara Eropa lainnya,” ujar Sukma, 46, salah satu anggota komunitas Begandring Surabaya dalam wawancara pada Rabu (30/7).
Keberagaman latar belakang para penghuni makam ini terlihat dari nama-nama dan bahasa yang terukir di batu nisan. Ada yang menggunakan bahasa Belanda, Inggris, maupun Prancis, dengan material nisan bervariasi, mulai dari batu pualam hingga besi baja.
Salah satu tokoh penting yang dimakamkan di kompleks ini adalah Pastor Martinus van den Elzen, seorang rohaniwan asal Belanda yang lahir di Gemert pada 11 April 1822 dan meninggal di Surabaya pada 19 Juli 1866.
“Di sana ada tokoh-tokoh penting, seperti Pastor Van Der Elzen dan Gubernur Jenderal Pieter Merkus,” imbuh Sukma.
Pastor Van den Elzen dikenal sebagai tokoh penting dalam pelayanan Gereja Katolik Roma di Surabaya. Ia pernah bertugas di gereja yang berdiri di ujung barat Jalan Roomsche Katolik Kerk Straat, yang kini dikenal sebagai Jalan Cendrawasih.
Selain aktif dalam pelayanan rohani, Pastor Van den Elzen juga berperan dalam mendatangkan lima suster dari Belanda ke Surabaya, yang bertugas memberikan pendidikan dan layanan rohani kepada para gadis. Kelima suster tersebut adalah Mere Louise (ketua rombongan), Mere Augustine, Mere Alphonse van Sittard, Mere Euphrasie dan Soeur Marie.
Pada batu nisannya, terlihat relief yang menggambarkan kebangkitan Yesus, menegaskan peran dan latar belakangnya sebagai pemuka agama yang disegani di masa itu.
Kini, meski hanya menjadi situs sejarah, keberadaan Makam Peneleh dan tokoh-tokoh seperti Pastor Van Der Elzen tetap menjadi pengingat akan warisan spiritual dan kebudayaan yang pernah tumbuh di Kota Surabaya. (man/gab/fir)
Editor : M Firman Syah