RADAR SURABAYA – Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga (Unair) mempunyai kegiatan rutin kompetisi debat hukum tingkat nasional yang dikemas dalam Airlangga Law Competition (APC).
Pada penyelenggaraan tahun ini, kompetisi bertajuk Debat Hukum Nasional ALC V 2025 diikuti oleh 22 tim.
Mereka berasal dari kampus perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS) se-Indonesia.
Final kompetisi mempertemukanTim Kusumawardhani dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan Ratna Sataman dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Final yang dihelat di lantai 6 Graha Sawunggaling, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Minggu (11/5), berlangsung seru.
Lahirnya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menjadi mosi debat final.
Tepatnya mengenai “Pemberian kewenangan pemeriksaan dan pengawasan kepada KPK dan BPK terhadap badan pengelola investasi Danantara guna transparansi penyelenggaraan keuangan negara.”
Tim Kusumawardhani menjadi delegasi yang pro dengan, sementara Tim Ratna Sataman sebaliknya alias kontra.
Kedua tim memberikan argumennya masing-masing dan saling mendebat di depat tujuh juri.
Tujuh juri tersebut berasal dari akademisi maupun praktisi hukum.
Kedua tim tampil penuh percaya diri saat bertemu di final.
Masing-masing menyampaikan argumen mereka secara sistematis dari pembukaan hingga penutupan.
Atmosfer debat layaknya debat hukum profesional semakin memanas dengan hadirnya berbagai interupsi yang dilontarkan antar peserta, membuat sesi final semakin kompetitif.
Ketua Pelaksana ALC V 2025 Maura Amabel mengatakan, pada babak penyisihan, kompetisi debat ini diikuti sebanyak 22 delegasi atau tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Hingga pada babak final hanya dua tim yang bersaing, yaitu Tim Kusumawardhani dan Tim Ratna Sataman.
“Secara keseluruhan, kompetisi debat ini mengusung tema akselerasi visi Indonesia 2045 melalui pembangunan hukum berlandaskan asas kerakyatan dan berkelanjutan,” ungkap Maura.
Diakuinya, mahasiswa hukum harus mengetahui dengan visi jangka Panjang Indonesia Emas 2045 ini.
“Visi Indonesia Emas 2045 memiliki empat pilar, jadi kami merujuknya ke sana. Salah satunya berkelanjutan, tapi tetap berfokus juga pada masyarakat karena kita juga berlandaskan pada asas kerakyatan,” jelasnya.
Maura menjelaskan, untuk sistem debat, panitia menyiapkan 12 mosi yang diperdebatkan dalam kompetisi, namun tidak semua diperlombakan.
Sebab, masing-masing delegasi bisa mempersiapkan yang terbaik untuk kompetisi ini.
Kompetisi yang seru itu mendapat pujian dari salah satu juri, yaitu Yuvina Ariestanti, S.H.,M.H.
Junior partner dari Ansugi Law itu mengapresiasi kompetisi debat hukum nasional yang digelar Fakultas Hukum Unair ini.
Menurutnya, para peserta terutama finalis, benar-benar memiliki pengetahuan yang luas, serta kemampuan riset yang bagus yang tertuang dalam retorika yang disampaikan dalam debat.
“Para finalis memiliki bakat sebagai orator dan debater. Ajang ini bisa membuat mereka mengasah pikiran dan analisa. Bagaimana pun itu kalau tidak diberikan ruang untuk menyalurkan bakatnya akan menjadi sia-sia,” ungkapnya.
Yuvina mengakui, para finalis bukan memiliki kekurangan, namun karena waktunya yang terbatas untuk menyiapkan dan membangun argumen, serta jam terbang yang masih kurang.
“Saat berdebat yang dilihat bukan soal substansinya saja, tapi bagaimana delivery message (penyampaian pesan) dengan baik. Dan bagaimana dia meyakinkan ke para juri yang ada di depan mereka, itu yang penting,” ujarnya.
Yuvina optimistis ke depan para peserta akan menemuka kesuksesan jika mereka terus belajar dan tidak malas mencari pengalaman baru.
“Karena ini soal jam terbang saja. Kalau pengalaman mereka terus dipupuk dan ketrampilan maupun ilmu diasah, adik-adik ini akan mendapatkan kesuksesannya,” ujar Yuvina.
Untuk juri final Debat Hukum Nasional ALC V 2025 ini, Ansugi Law mengirimkan dua orang.
Selain Yuvina, juga ada Syahrizal, S.H., M.Hum. CPL selaku Ligitation Partner.
Final debat akhirnya memutuskan Tim Ratna Sataman dari UGM Yogyakarta sebagai juaranya. (opi)
Editor : Nofilawati Anisa