Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Terkait Dua Jemaah Asal Jember yang Berontak Ingin Keluar dari Asrama Haji Surabaya, Ini Penjelasan Tim Kesehatan PPIH

Rahmat Sudrajat • Minggu, 11 Mei 2025 | 01:13 WIB
DEMENSIA: Katim Bidang Kesehatan PPIH Embarkasi Surabaya dr. Mochamad Gesta Robi Farmawan terkait dua calon jemaah haji asal Jember yang dirawat di asrama haji.(RAHMAT SUDRAJAT/RADAR SURABAYA)
DEMENSIA: Katim Bidang Kesehatan PPIH Embarkasi Surabaya dr. Mochamad Gesta Robi Farmawan terkait dua calon jemaah haji asal Jember yang dirawat di asrama haji.(RAHMAT SUDRAJAT/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA- Dua calon jemaah haji (CJH) asal Jember yang tergabung dalam kloter 32 diduga demensia di hari yang sama saat kedatangan di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Sabtu (10/5). Jemaah haji tersebut bernama Achmad Sadin yang kini sudah dirujuk di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya dan Enjo Endin Parmo yang masih mendapatkan perawatan di klinik Asrama Haji Embarkasi Surabaya. 

Ketua Tim (Katim) Bidang Kesehatan PPIH Embarkasi Surabaya dr. Mochamad Gesta Robi Farmawan membenarkan adanya jemaah haji yang diduga demensia. Dia menyebut ada dua orang yang sudah ditangani langsung. ”Satu orang sekarang di RS Menur, satunya lagi masih kami tangani,” ungkap dr. Gesta. 

Lebih lanjut dr. Gesta mengungkapkan sampai saat ini belum bisa memastikan kondisi jemaah tersebut untuk bisa berangkat ke tanah suci karena masih mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Jiwa Menur. 

"Ya tergantung dari pihak keluarga, namun tidak memungkinkan juga harus jalani perawatan di RS tersebut. Kalau yang di RS Menur ini tergolong demensia berat ya,” jelasnya. 

Menurutnya jemaah tersebut mengalami gangguan atas kondisi lingkungannya. Termasuk pada adaptasi di situasi yang baru. Sehingga memicu gangguan perilaku dan butuh penanganan khusus dan perlu perawatan intensif.

Baca Juga: Ingin Pulang ke Jember, Jemaah Haji Berusia 90 Tahun Berteriak dan Lari dari Asrama Sukolilo Surabaya, Begini Ceritanya

Termasuk jemaah lainnya, yang mengaku ingin kembali ke daerah asal karena sapi peliharaannya tidak ada yang merawat. Menurut dia, kondisi itu adalah alibi agar jemaah bisa kembali ke daerah asal. 

”Kondisi itu biasanya muncul karena kecemasan yang tidak bisa dikendalikan, lalu jemaah mencari-cari alasan agar bisa pulang,” jelasnya.

Meski upaya pencegahan sudah dilakukan sejak lama, kasus seperti ini masih saja terjadi. Gesta menilai, pengawasan terhadap jemaah lanjut usia harus lebih ketat lagi kedepannya. Ia juga menegaskan bahwa jemaah dengan kondisi demensia diperbolehkan untuk dibadalkan hajinya.

“Boleh saja hajinya dibadalkan ke anaknya, karena kasihan juga kalau dipaksakan berangkat,” ujarnya. Ia berharap ke depan ada regulasi khusus yang mengatur penanganan jemaah dengan gangguan daya ingat, terutama demi menjaga aspek kemanusiaan.

”Kita perlu political will dari pemangku kebijakan agar kasus seperti ini bisa ditangani dengan lebih baik pada musim haji berikutnya,” paparnya.

Sebelumnya Achmad Sadin,90, tiba-tiba berlari ke luar asrama haji sembari berteriak-teriak ingin pulang ke Tempurejo, Jember. Sedangkan Enjo Endin Parmo, 70, ingin pulang ke Jenggawah, Jember karena lupa memberikan makan rumput ke sapi peliharaannya, sehingga dia ingin ngarit (mencari rumput). (rmt/gun)

Editor : Guntur Irianto
#ketua tim #demensia #penyebab #calon jemaah haji (CJH) #ppih #pemeriksaan #dirawat #jemaah #asrama haji surabaya #kesehatan #Asal #dokter #jember #sakit apa #haji 2025