RADAR SURABAYA – Sebanyak 2.700 jemaah haji asal Surabaya mengikuti kegiatan pembinaan manasik haji tingkat kota yang digelar di Gedung Muzdalifah, Asrama Haji Sukolilo.
Acara ini berlangsung selama dua hari, Kamis dan Jumat, dengan tujuan membekali jemaah agar dapat melaksanakan ibadah haji secara mandiri dan optimal.
Kegiatan ini dibagi menjadi dua gelombang, masing-masing diikuti oleh sekitar 1.400 jemaah. Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surabaya, Muhammad Muslim, menekankan pentingnya bimbingan manasik sebagai bekal pemahaman terhadap setiap tahapan ibadah haji.
“Tidak menutup kemungkinan masih ada jemaah yang belum memahami secara utuh, sehingga manasik menjadi bekal penting menuju haji mabrur,” ungkap Muslim.
Materi manasik mencakup kebijakan terbaru dari pemerintah Indonesia dan Arab Saudi. Di antaranya adalah layanan jemaah di Tanah Suci serta kebijakan Murur, yang memperbolehkan jemaah lansia dan risiko tinggi (risti) untuk langsung menuju Mina tanpa bermalam di Muzdalifah.
Muhammad Muslim menegaskan bahwa seluruh jemaah lansia telah dinyatakan istithaah, yaitu mampu secara fisik dan kesehatan untuk menunaikan ibadah haji.
Pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh tim medis yang memberikan rekomendasi kelayakan berangkat.
Selain pembekalan materi, jemaah haji asal Surabaya juga akan menerima layanan konsumsi sebanyak tiga kali sehari selama 40 hari, dengan total 120 kali makan.
Setiap jemaah juga akan dibekali gelang barcode guna memudahkan proses identifikasi apabila tersesat di Tanah Suci.
“Karena haji adalah ibadah fisik, kami anjurkan jemaah mulai membiasakan diri berjalan kaki setiap hari,” ujar Muslim.
Tahun ini, Kota Surabaya mendapat kuota 2.900 jemaah. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.400 orang telah melunasi biaya haji, sementara 1.000 jemaah cadangan disiapkan untuk mengisi kursi kosong apabila ada yang batal berangkat. Batas akhir pelunasan tahap kedua ditetapkan pada 17 April 2025.
Jemaah akan mulai masuk Asrama Haji Sukolilo pada 1 Mei 2025, dan dijadwalkan terbang ke Tanah Suci pada 2 Mei menggunakan Maskapai Saudi Arabia Airlines, dengan kapasitas 380 jemaah per kloter.
Embarkasi Surabaya mencakup jemaah dari tiga wilayah, yaitu Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Bali. Total terdapat 97 kloter yang terbagi menjadi 93 kloter dari Jawa Timur, serta masing-masing 2 kloter dari NTT dan Bali.
“Surabaya siap masuk gelombang pertama dan menjadi penyangga jika ada open seat. Maka jemaah cadangan harus siap berangkat kapan pun dipanggil,” pungkas Muslim.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan