RADAR SURABAYA - Banjir dua hari berturut-turut yang melanda sejumlah wilayah di Surabaya membuat sejumlah pihak angkat bicara.
Meski banjir tersebut surut setelah memakan waktu satu sampai dua jam.
Hal ini tetap menjadi permasalahan serius yang harus segera mendapat penanganan dari pemerintah.
Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya Aning Rahmawati mengungkapkan, dalam mengatasi masalah banjir ini, pemerintah kota harus punya road map-nya terlebih dahulu.
Dalam road map itu, harus juga mencakup anggaran yang dibutuhkan serta jangka waktu penanganannya.
Salah satu contohnya adalah kawasan wilayah Surabaya Timur misalnya. Di sana ada 2.100 titik banjir yang menurutnya tersebar di sejumlah titik.
Mulai dari kawasan kecamatan Bulak, Sukolilo, hingga Gunung Anyar dan Wonocolo.
Ketika pemerintah punya road map yang jelas, maka penanganan banjir ini bisa lebih on point.
"Wali kota harus bisa tegas menyampaikan, bahwa banjir akan selesai dalam waktu sekian tahun. Dengan anggaran sekian triliun. Ini harapan saya untuk muncul di raperda," kata Aning.
Saat ini, dewan juga memang sedang membahas Raperda Penanganan Banjir tersebut.
Namun, tanpa road map dari pemerintah, raperda ini belum bisa menjadi solusi untuk permasalahan itu.
"Harapan saya road map ini muncul di Raperda Pengendalian Banjir," tuturnya.
Ketika ada road map, Aning melanjutkan, seluruh elemen bisa mengetahui alasan dibalik titik A masih banjir karena apa.
Semisal, jika memang belum tersedia anggarannya, tapi tetap ada kepastian titik tersebut akan dikerjakan kapan dan selesai kapan.
"Titik itu nantinya dikerjakan tahun sekian. Itu yang menjadi harapan kita supaya dalam reperda itu harus tegas dan terukur," ujar legislator dari Fraksi PKS itu.
Selain itu, masalah penyebab banjir seperti banguna liar di sepadan sungai ata pemerataan rumah pompa juga menjadi hal yang tak kalah krusial untuk diatasi dan dilaksanakan.
"Misalnya jumlah rumah pompa kemudian letak rumah pompa sudah banyak yang tidak sesuai. Dan sulit untuk dilaksanakan untuk lima rayon," tuturnya
Di sisi lain, pemerintah kota juga sudah angkat bicara mengenai masalah banjir ini.
Mereka menyebut, banjir yang terjadi di wilayah barat pada Jumat dan Sabtu lalu itu karena fenomena cuaca ekstrem.
Kendati begitu, mereka juga mengaku sudah memetakan wilayah-wilayah mana saja yang sering terdampak banjir.
Sebutlah seperti kawasan Jalan Tengger Raya, Jalan Wisma Tengger di wilayah barat.
Lalu Jalan Gayungsari Barat, Jalan Gayungsari Timur, Jalan Kutisari, Jalan Siwalankerto, dan Jalan Pagesanga di selatan.
Kemudian Jalan Kalibokor, Jalan Mulyosari, dan Jalan Sutorejo di timur. Dan Jalan Greges Timur, Kalianak, serta Tambak Osowilangun di utara.
Ruas-ruas itu menurut mereka merupakan wilayah yang sering terdampak banjir saat hujan lebat mengguyur kota ini.
Penyebabnya disebut karena saluran air tidak mampu menampung air karena tersumbat bangunan liar, sampah, serta pemukiman yang tidak dilengkapi fasilitas sosial (fasos).
"Untuk mengantisipasi banjir, kami menempatkan mobil penyedot banjir, Satgas URC (Unit Reaksi Cepat) di lokasi rawan banjir. Kami juga menempatkan Satgas penyarang di rumah pompa untuk memastikan kinerja penyedotan maksimal, serta rutin mengeruk saluran dan bozem," kata Kepala Bidang Drainase Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Windo Gusman Prasetyo. (dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari