Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Melawan Stigma Negatif dari Sarung, Ternyata jadi Permainan Tradisional Anak-Anak Kenjeran Surabaya saat Ngabuburit

Rahmat Sudrajat • Senin, 10 Maret 2025 | 12:49 WIB

 

CERIA: Anak-anak di kawasan Kenjeran Surabaya tengah bermain sarung yang merupakan permainan tradisional, Minggu (9/3).
CERIA: Anak-anak di kawasan Kenjeran Surabaya tengah bermain sarung yang merupakan permainan tradisional, Minggu (9/3).

RADAR SURABAYA - Ada banyak cara untuk menunggu waktu berbuka puasa, terutama bagi anak-anak.

Dengan sarung, anak-anak di perkampungan Kawasan Kenjeran, Surabaya ini bermain permainan tradisional.

Seperti yang dimainkan oleh Somi, Laras, Raya, Rahma dan Dinda, Minggu (9/3) sore.

Mereka bermain lima permainan tradisional dengan sarung.

Mulai dari lempar sarung yang kemudian membentuk lingkaran, membuat boneka dari sarung, ninja sarung, buntut monyet, tikus-tikusan hingga tebak-tebakan dengan sarung.

Menurut Founder Kampoeng Dolanan, Mustofa Sam, ngabuburit Marhaban Yaa Dolanan kali ini mencoba dengan permainan dari sarung.

Sarung selama ramadan sangat identik dan melekat pada diri untuk digunakan beribadah, namun di tangan anak-anak sarung digunakan sebagai sarana bermain yang menyenangkan.

"Akhirnya kita gunakan sarung sebagai media bermain yang dulu juga digunakan orang zaman dulu untuk bermain sembari menunggu buka puasa," ujar Mustofa.

Meski kini sarung digunakan hal negatif untuk perang sarung hingga terjadinya tawuran yang menggunakan sarung, namun Mustofa ingin menepis anggapan negatif tersebut dengan suatu permainan untuk anak-anak.

"Saat ini banyak viral tentang sarung yang digunakan untuk tawuran. Padahal perang sarung sejatinya ya permakanan tapi kemudian digunakan sebagai konotasi yang negatif sebagai tawuran dan perang sarung. Sebenernya kegiatan ini melawan stigma negatif tersebut," ungkapnya.

Cak Mus, sapaan karib Mustofa, menyebut dia dan Kampoeng Dolanan sendiri sudah mencetuskan ngabuburit dengan pendekatan kepada warga melalui permainan tradisional ini sejak delapan tahun silam.

Alasan Cak Mus untuk melakukan pendekatan dengan permainan tradisional kepada anak-anak agar permainan bisa sebagai "spiritual" selain ibadah di bulan ramadan ini terutama menjelang berbuka.

"Banyak sekali pendekatan spiritual dengan ibadah tapi bagi anak-anak lekat sekali dengan bermain. Nah ibadahnya anak-anak ya sebetulnya bermain itu. Sampai ada istilah ketika bermain lupa waktu, itu salah satu budaya yang seharusnya dilakukan dan dikenalkan kepada anak bahwa dunia mereka ya bermain," jelasnya.

Bahkan saat ramadan ini dia kerap digandeng dengan TPQ, masjid hingga kampung untuk lebih mengenalkan permainan tersebut kepada anak-anak.

Dia pun berharap dengan permainan ini sebetulnya makin menyadarkan orang-orang terutama orang tua akan dunia anak dalam dunia bermain.

Itu perlu dilakukan banyak pihak pendekatan, karena anak lebih produktif dengan bermain. Dunia anak dunia bermain.

"Jadi kalau pingin mengetahui ibadahnya anak-anak seperti apa ya menyelamlah pada dunia anak-anak. Dunia anak- anak dunia bermain. Maka ngabuburit dolanan menjadi solusi untuk dilakukan kepada anak-anak," pungkasnya. (rmt/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#kampung dolanan #permainan tradisional #mustofa #permainan sarung #ngabuburit #kenjeran #perang sarung