RADAR SURABAYA – Merebaknya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di sejumlah wilayah di Jawa Timur menjadi perhatian serius sejumlah pihak.
Saat ini, kasus tersebut belum ditemukan terjadi di Surabaya. Namun, PD RPH Surabaya memastikan pihaknya sudah menyiapkan langkah antisipasinya.
Direktur Utama PD RPH Surabaya, Fajar Arifianto Isnugroho menegaskan, pihaknya telah memperketat pengawasan dan menerapkan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat dalam proses pemotongan hewan. Salah satunya seperti memeriksa SKKH dari hewan ternak.
"Pertama-tama dengan memeriksa SKKH dari daerah asal hewan. Ini kami cek untuk memastikan bahwa hewan yang masuk ke RPH dalam keadaan sehat dan bebas dari virus, termasuk PMK," kata Fajar.
Fajar melanjutkan, pemeriksaan kesehatan hewan secara menyeluruh melalui dua tahap yaitu pemeriksaan antemortem dan postmortem. Pemeriksaan antemortem dilakukan sebelum pemotongan untuk memastikan hewan dalam kondisi sehat.
Sedangkan postmortem dilakukan setelah pemotongan guna menjamin keamanan daging.
Selain pemeriksaan hewan, PD RPH Surabaya juga memperkuat penerapan biosafety dan biosecurity untuk mencegah penyebaran virus.
Fajar mengungkapkan bahwa kebersihan lingkungan RPH semakin diintensifkan dengan penyemprotan disinfektan di tiga area utama.
"Kami mengintensifkan kebersihan dan penyemprotan desinfektan di tiga lokasi berbeda, yakni di tempat pemotongan, kandang penampungan, dan kendaraan pengangkut hewan," jelasnya.
Fajar juga menyebutkan bahwa lima dokter hewan di RPH Pegirian dan Kedurus secara rutin melakukan pemeriksaan terhadap hewan yang masuk ke RPH.
Hingga saat ini, belum ditemukan indikasi adanya virus PMK pada hewan yang akan dipotong.
"Alhamdulillah, belum ada indikasi adanya virus PMK pada hewan yang akan dipotong di RPH Surabaya," ujarnya.
Meski wabah PMK merebak di sejumlah daerah, permintaan daging di Surabaya tetap stabil. PD RPH mencatat rata-rata 150 ekor sapi dipotong setiap hari di RPH Pegirian dan Kedurus.
"Kami menjamin sapi yang dipotong di RPH ini bebas dari PMK, sehingga dagingnya pun aman. Permintaan daging tetap normal, karena masyarakat percaya dengan SOP yang kami terapkan," pungkasnya. (dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari