RADAR SURABAYA - Beberapa pekan terakhir harga telur di Surabaya mencapai Rp 35.000 per kilogram.
Tak hanya kalangan rumah tangga, kenaikan harga telur ini juga berdampak kepada produsen roti maupun kue.
Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur, harga rata-rata untuk komoditas telur ayam di Jawa Timur per Minggu (5/1) Rp 28.936.
Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Gresik Rp 30.666, dan terendah di Kabupaten Mojokerto Rp 27.350.
Ketua Asosiasi Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Rofi Yasifun mengatakan harga telur di kandang saat ini mencapai Rp 26.500.
Menurutnya harga naik melebihi Harge Eceran Tertinggi (HET), yakni Rp 25.000.
"Kenaikan ini disebabkan permintaan di pasaran meningkat," katanya.
Rofi menambahkan naiknya harga ini juga disebabkan oleh jumlah pasokan yang berkurang. Bahkan kenaikan harga ini juga pengaruh cuaca. "Hujan terus menerus membuat ayam agak jarang bertelur," ujarnya.
Rupanya kenaikan harga telur ayam tersebut menjadi permasalahan tersendiri bagi produsen roti tawar di Sidoarjo maupun Surabaya. Seperti Nur Yanto warga Gedangan Sidoarjo.
Menurutnya kenaikan telur ayam tersebut membuatnya mau tidak mau menaikkan harga roti tawarnya.
"Kalau kualitas tidak bisa kita kurangi, kami khawatir pelanggan malah beralih. Jadi kita bilang ke pelanggan kalau harga naik," ujarnya.
Berbeda dengan Nur Yanto, Eva produsen kue asal Kecamatan Tugu, Trenggalek justru tidak menaikkan harga. Bahkan menurutnya kualitasnya juga tetap.
"Kalau saya ngitungnya untung tipis gak masalah, yang penting pelanggan gak lari," katanya.
Indah Fitria, pemilik UMKM kue kering di Surabaya sudah mulai sambat dnegan kenaikan harga telur.
Sebagai bahan baku utama kue kering, kenaikan harga telur jelas-jelas menaikkan biaya operasional.
“Biaya operasional sudah naik 10 persen. Padahal pesanan sudah mulai banyak karena menjelang Ramadan disusul Lebaran,” kata Indah. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa