Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pemkot Surabaya Terapkan Pola Tanam Terstruktur untuk Jaga Ketahanan Pangan

Dimas Mahendra • Rabu, 25 Desember 2024 | 00:42 WIB

 

Kepala DKPP Kota Surabaya Antiek Sugiharti saat memanen cabai di kawasan Lakarsantri.
Kepala DKPP Kota Surabaya Antiek Sugiharti saat memanen cabai di kawasan Lakarsantri.

RADAR SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengantisipasi potensi lonjakan harga bahan pokok menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025.

Salah satunya dengan mengatur pola tanam terstruktur bersama kelompok tani (Poktan) dan petani urban farming.

Gerakan menanam tanaman cepat panen menjadi salah satu langkah strategis untuk menjaga kestabilan stok pangan di Kota Pahlawan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti mengatakan, hasil dari pola tanam yang direncanakan sejak beberapa bulan lalu mulai terlihat. Di hari yang sama, panen cabai dan padi dilakukan oleh kelompok tani di beberapa kecamatan.

"Hari ini kami memanen cabai besar varietas Imola di Poktan Sumber Makmur dan Lakarsantri Makmur. Luas panen mencapai 0,3 hektare dengan hasil panen perdana sekitar 45-65 kilogram," ujar Antiek.

Panen cabai yang dilakukan di depan kantor Kecamatan Lakarsantri ini dijadwalkan berlangsung setiap dua hari sekali.

"Dua hari lagi, cabai yang masih hijau akan matang dan bisa dipanen kembali. Hal ini menunjukkan persiapan yang kami lakukan cukup efektif untuk memenuhi kebutuhan lokal," tambahnya.

Di sisi lain, Poktan Sri Sedono di Kelurahan Jeruk, Kecamatan Lakarsantri, juga memanen padi varietas Ciherang di lahan seluas 15 hektar dengan total produksi mencapai 121,5 ton.

"Beberapa kelompok tani di Surabaya memulai panen di akhir tahun ini untuk mendukung ketersediaan bahan pokok menjelang Nataru," jelas Antiek.

Langkah strategis ini merupakan bagian dari program pengendalian inflasi yang dirancang oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Surabaya.

Antiek menuturkan, Pemkot Surabaya sudah membagikan bibit cabai, bawang merah, dan tomat sejak dua hingga tiga bulan lalu kepada kelompok tani dan petani urban farming.

"Kami menargetkan panen dimulai pada November hingga Januari, agar ketersediaan bahan pokok tetap terjaga. Dengan skema ini, harga cabai, bawang merah, dan bahan pangan lain di pasar lokal dapat stabil," kata Antiek.

Antiek juga mengimbau masyarakat Surabaya untuk bijak dalam berbelanja dan menghindari panic buying.

Pasalnya, pemkot memastikan stok bahan pangan mencukupi hingga beberapa bulan ke depan.

"Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Surabaya berada di angka 3,8. Untuk cabai, stok hingga tiga bulan ke depan insyaallah aman, meskipun harga mungkin sedikit naik karena daerah penghasil lain tidak panen atau menghadapi serangan penyakit," ungkapnya.

Melalui program pola tanam dan pengendalian inflasi ini, Pemkot Surabaya berharap tidak hanya menjaga kestabilan harga menjelang Nataru tetapi juga mendorong ketahanan pangan jangka panjang di Surabaya.

"Insyaallah stok bahan pokok di Surabaya sangat aman. Kami mengajak masyarakat untuk belanja sesuai kebutuhan dan tidak perlu khawatir, karena semua bahan pokok tersedia dengan baik di Kota Surabaya," tandas Antiek.

Dengan langkah ini, Pemkot Surabaya terus menunjukkan komitmennya dalam memastikan kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi, terutama di momen-momen penting seperti Natal dan Tahun Baru. (dim/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#kelompok tani #urban farming #bahan pokok #Pertanian #stok pangan #ketahanan pangan #pemkot surabaya