Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dinasti Assad: Permulaan, Kejatuhan, dan Masa Depan Suriah Setelahnya

Vega Dwi Arista • Minggu, 15 Desember 2024 | 23:16 WIB
Naufal Pradipta Jamaluddin
Naufal Pradipta Jamaluddin

PENULIS: Naufal Pradipta Jamaluddin

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga

Sejak akhir November lalu, dunia dikejutkan dengan kembalinya perang antara Pasukan Pemerintah Suriah dengan pemberontak. Suatu pertempuran yang sudah tidak lama terdengar dan menemui kebuntuan mencuat Kembali. Hal ini dimulai Ketika sebuah kelompok pemberontak, HTS (Hay’at Tahrir Al Syam) meluncurkan serangan dadakan di wilayah Aleppo dan berhasil merebutnya pada 30 November. Pencaplokan Aleppo menjadi titik awal bagi pemberontak HTS dan mungkin kelompok pemberontak lain untuk bergerak ke arah Selatan.

Selain HTS, pemberontak SNA (Tentara Nasional Suriah) yang merupakan milisi bekingan Turki ikut menggempur Pasukan Suriah dari timur laut Aleppo. Pemberontak Kurdis juga tak ingin melewatkan kesempatan ini. Mereka ikut menyerang di bagian timur Suriah. Kekuatan perlawanan dari seluruh elemen pemberontakan membuat pasukan pemerintah Suriah mulai kelelahan. Satu per satu kota seperti Homs dan Hama dikuasai pemberontak HTS, hingga puncaknya pada 8 Desember Presiden Al-Assad dinyatakan kabur ke Russia. Ditambah dengan moral yang turun, pasukan pemerintah banyak yang menyerah kepada pemberontak. Pasukan HTS pun berhasil mencapai ibu kota, Damaskus.

Bagi rakyat Suriah, jatuhnya Damaskus ke tangan pemberontak merupakan langkah awal bagi Suriah untuk kebebasan. Suriah telah menderita selama puluhan tahun dibawah dinasti Al Assad. Kebebasan pres yang dibatasi. Ketidakpastian ekonomi akibat sanksi ekonomi dari negara-negara barat. Berbagai retorika propaganda yang ditampilkan kepada warganya seperti Korea Utara.

Dinasti Al Assad dimulai saat seorang jenderal bernama Hafez Al-Assad naik ke tampuk kekuasaan setelah melakukan “pembersihan” faksi-faksi lain di dalam partainya sendiri, Partai Ba’ath. Ia berkuasa dengan tangan besi dan mengadopsi ideologi Pan-Arabisme, Baathisme, dan sosialisme. Suriah sendiri menjadi negara terisolasi dan bergantung kepada negara-negara blok timur seperti Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina. Akibat isolasi tersebut ekonomi negara mengalami stagnasi berkepanjangan walaupun pada dekade 70-an pemerintah melakukan liberalisasi ekonomi secara terbatas. Rakyat pun tidak merasa puas terhadap kondisi saat itu.

Setelah 30 tahun lebih berkuasa, Hafez pun wafat akibat penyakit jantung pada than 2000. Kekuasaan diberikan kepada anaknya, Bashar Al Assad. Terpilihnya Bashar merupakan hal yang unik. Karena ia memiliki latar belakang di dalam dunia medis sebagai dokter bedah bahkan pernah berkarir di Inggris selama beberapa tahun. Namun pada tahun 1994, kakaknya yang digadang menjadi penerus kekuasaan ayahnya meninggal akibat kecelakaan. Bashar pun dipanggil kembali ke Suriah untuk mengikuti pelatihan militer untuk dipersiapkan sebagai pemimpin negara selanjutnya.

Ditunjuknya Al-Assad sebagai presiden membawa harapan dan optimisme baru bagi Suriah dan dunia internasional karena ia pernah berkarir di Inggris. Bashar diharapkan membawa kebebasan berpolitik dan bersuara. Hal itu memang ia lakukan. Membebaskan tahanan politik dan memberikan kebebasan secara terbatas kepada pers dan media. Sayangnya kebaikan tersebut tak berlangsung lama. Sekelompok ahli dan intelektual sebanyak 1000 orang menandatangani petisi yang berisi permintaan kepada Bashar Al-Assad agar diberlakukannya sistem multi-partai dan tingkat kebebasan yang lebih besar. Assad pun Kembali melakukan pembatasan bersuara.

Puncak dari kekuasaan otoriter Assad yaitu pada saat awal gelombang revolusi politik mengguncang Timur Tengah atau sering disebut sebagai Arab Spring. Suriah tak luput dari gelombang revolusi ini. Pada 2011 sekelompok remaja di Kota Daara menggambar graffiti yang bertuliskan kritik terhadap pemerintah. Polisi pun menangkap lalu menyiksa mereka selama berhari-hari. Masyarakat yang mengetahui hal ini menggelar demonstrasi. Demonstrasi yang awalnya hanya di Daara menyebar luas ke berbagai wilayah. Polisi dan tentara pun membalas tuntutan dari masyarakat dengan tangan besi. Ratusan demonstran diperkikarakan tewas akibat tindakan represif dari polisi.

Buntut dari represifitas polisi dan tentara adalah terbentuknya kelompok militer yang tujuannya untuk menggulingkan pemerintah. Kelompok-kelompok tersebut terpisah secara ieedologi namun memiliki tujuan yang sama. Contohnya milisi HTS yang terafiliasi dengan Al-Qaeda ingin menggulingkan pemerintah untuk mendirikan pemerintah Islam, milisi SNA yang didukung Turki hanya ingin mendirikan pemerintahan yang pro Turki, dan milisi SDF yang mengiginkan otonomi wilayah Kurdistan. Pada awal pemberontakan, mereka berhasil mencaplok wilayah-wilayah penting di bagian utara. Namun, pasukan pemerintah berhasil merebut Kembali wilayah-wikayah tersebut dari pemberontak dengan bantuan militer dari Russia dan Iran. Suriah pun menjadi medan dari proxy war.

Setelah 13 tahun perang berkobar, Rezim Bashar Al-Assad pun jatuh. Kejatuhan tersebut ditandai dengan kaburnya Assad ke Russia dan jatuhnya Damaskus ke tangan pemberontak HTS. Walaupun tirani telah tiada, tantangan untuk masa depan Suriah masih diperdebatkan. Pemberontak sendiri terdiri dari beberapa faksi atau kelompok. HTS merupakan kelompok yang dominan dalam Upaya jatuhnya Assad. Transisi kekuasaan dari pemerintah lama kepada HTS sedang dalam proses hingga artikel opini ini dibuat

HTS sendiri dinyatakan sebagai organisasi teroris oleh PBB karena afiliasinya dengan Al-Qaeda. HTS sendiri telah mendelakrasikan bahwa mereka telah memutus hubungan dengan Al-Qaeda pada 2016. Sejak saat itu kelompok ini menjadi lebih moderat dan berfokus untuk menggulikan Presiden Assad. Hal ini dapat dilihat dari wilayah yang mereka kuasai, yaitu Idlib. HTS berhasil menyatukan beberapa kelompok agama yang berbeda untuk dipimpin oleh mereka. Namun tetap saja citra teroris HTS masih melekat pada pandangan sebagian orang di Suriah seperti Orang Kurdis, Penganut Alawi, Druze, dll. Sehingga mereka masih bersikap waspada terhadap pemerintahan baru.

Suriah memang telah menapaki langkah baru. Namun, kita tidak tahu bagaimana nasib negara tersebut kedepannya. Apakah jatuh kembali ke dalam perang saudara tak berkesudahan, atau  damai hingga puluhan bahkan ratusan tahun ke depan. (*)

Editor : Vega Dwi Arista
#dinasti #pemerintah #serangan #pemberontak #suriah