RADAR SURABAYA - Sebanyak 10 orang tercatat meninggal dunia dengan cara bunuh diri di Surabaya mulai awal tahun hingga 10 Desember 2024. Tiga korban di antaranya berstatus mahasiswa atau pelajar.
Berdasarkan data Radar Surabaya pada Januari 2024 terjadi satu kasus bunuh diri. Ini dilakukan seorang pelajar berinisial AD, 15, warga Balasklumprik, Wiyung, Surabaya. Ia ditemukan gantung diri di gudang kosong di Jalan Kebraon II, Karangpilang, Kamis (11/1).
Kemudian pada Mei 2024 terjadi satu kasus bunuh diri. Korbannya adalah RL, 48, warga Perum Palm Spring Blok C, Jambangan, Surabaya, yang ditemukan tewas gantung diri di lantai dua rumahnya, Selasa (7/5) sekitar pukul 05.00. Korban diduga nekat bunuh diri karena stres ditinggal istri dan rumahnya hendak disita bank.
Pada Juni 2024, terjadi dua kasus bunuh diri di Surabaya. Seorang pria tanpa identitas ditemukan gantung diri di pohon di lahan kosong di Jalan Tambak Wedi Belakang BPWS, Kenjeran, Senin (3/6).
Selanjutnya Meing Thiowati, 44, warga Leces, Sumberkedawung, Probolinggo, nekat bunuh diri di atas rel sekitar Jalan Ahmad Yani, Siwalankerto, Surabaya, Selasa (18/6). Korban tewas setelah ditabrak kereta commuter line Sindro.
Kemudian pada Agustus 2024, terjadi satu kasus bunuh diri. Angga Mardiyanto, 26, warga Ngagel Dadi III B, Kelurahan Ngagelrejo, Wonokromo, ditemukan tewas gantung diri di rumahnya, Senin (12/8). Namun, penyebab atau motif korban mengakhiri hidup belum diketahui.
Pada September 2024, terjadi tiga kali kasus bunuh diri. Pertama dilakukan seorang pencari rongsokan yang melompat ke sungai dari jembatan di Jalan Raya Nginden, Sukolilo, Surabaya, Rabu sore (4/9).
Mayat pria yang belakangan diketahui berinisial IM, 22, warga Desa Bulujaran Kidul, Tegal Siwalan, Probolinggo, itu ditemukan Tim Basarnas dan BPBD Surabaya yang melakukan penyelaman di dasar sungai Jagir sekitar jembatan Nginden, Jumat pagi (5/9) sekitar pukul 08.30.
Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Tim Inafis Polrestabes Surabaya, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Menurut keluarga, korban diduga nekat bunuh diri terjun dari jembatan.
Kedua menimpa seorang pria, N, 51, warga Jalan Sememi Jaya VI E utara rel, Kelurahan Sememi, Benowo, Surabaya. Ia ditemukan gantung diri di rumahnya, Senin malam (9/9).
Pria asal Desa Lengkong Lor Ngluyu, Nganjuk, itu ditemukan pertama kali oleh istrinya S, 60, sekitar pukul 21.30. Korban ditemukan dalam kondisi gantung diri menggunakan kain dikaitkan penyangga kayu di rumah.
Aksi bunuh diri ketiga dilakukan seorang mahasiswi kampus swasta di Surabaya Barat berinisial SNV, 20, asal Menganti, Gresik.
Ia ditemukan tewas tergeletak di jalan antara gedung kampus dan apartemen di kawasan Sambikerep, Rabu (18/9) pagi. Korban nekat bunuh diri dengan terjun dari lantai 22 kampus diduga karena putus cinta.
Pada Oktober 2024, terjadi dua kasus bunuh diri. RD, 23, warga Jemur Andayani, mahasiswa universitas swasta di Surabaya selatan ditemukan tewas setelah terjun dari lantai 12 gedung kampus Q Jalan Siwalankerto, Surabaya Selasa (1/10). Korban diduga bunuh diri karena depresi.
Kemudian H, 55, warga Jakarta, juga nekat terjun dari lantai 21 sebuah hotel di Jalan Kayoon, Genteng Surabaya Minggu (13/10).
Pada November 2024, terjadi satu kasus bunuh diri. Seorang pemuda asal Manado berinisial CL, 23, ditemukan meninggal dunia gantung diri di bangunan kosong bekas restoran di Jalan HR Muhammad Surabaya, Selasa (19/11). Pemuda ini diduga nekat mengakhiri hidup karena masalah ekonomi.
Dikutip dari situs sehatnegeriku.kemkes.go.id, berdasarkan data World Health Organization (WHO) lebih dari 700.000 orang meninggal dunia akibat bunuh diri setiap tahun.
Di Indonesia menurut data dari Polri menunjukkan bahwa angka kematian akibat bunuh diri pada tahun 2023 meningkat menjadi 1.230 kasus dari 826 kasus pada tahun sebelumnya. (rus/jay)
Editor : Jay Wijayanto