Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sosok yang Digugu dan Ditiru, Guru Harus Bijak Bermedsos

Indra Wijayanto • Jumat, 8 November 2024 | 01:55 WIB
JAGA WIBAWA: Sebagai contoh bagi murid-muridnya, guru harus bijak dalam menggunakan media sosial, lebih baik lagi bisa memanfaatkannya untuk menunjang pengajaran.  FOTO ISTIMEWA
JAGA WIBAWA: Sebagai contoh bagi murid-muridnya, guru harus bijak dalam menggunakan media sosial, lebih baik lagi bisa memanfaatkannya untuk menunjang pengajaran. FOTO ISTIMEWA

RADAR SURABAYA-Sebagai sosok yang "digugu dan ditiru," guru memiliki tanggung jawab besar, tak hanya dalam ruang kelas, tetapi juga dalam lingkungan digital seperti media sosial. 

Perilaku dan konten yang mereka bagikan di media sosial (medsos) dapat memengaruhi banyak pihak, terutama murid-murid yang menjadikan guru sebagai panutan.

Raden Roro Martiningsih, Duta Teknologi Kemendikbudristek mengatakan, di era digital ini, media sosial merupakan ruang publik yang sangat luas, sehingga setiap hal yang di-posting dapat menjadi teladan atau bahkan kontroversi, tergantung bagaimana guru menyikapinya. 

“Oleh karena itu, penting bagi seorang guru untuk memahami dampak dari setiap tindakan di media sosial sebagai bagian dari peran mereka,” katanya.

Martiningsih menuturkan, sebagai pengguna media sosial, guru dapat memanfaatkan platform ini untuk menyebarkan konten yang positif dan edukatif. 

Berbagi informasi bermanfaat, artikel mendidik, atau video inspiratif akan menciptakan citra guru yang peduli pada pendidikan dan pengembangan diri. 

Guru bisa membagikan tips belajar, cara membaca efektif, atau bahkan berbagi pengalaman yang memotivasi. 

Ini akan menginspirasi para murid serta memberi mereka sumber belajar yang bermanfaat di luar kelas formal.

“Media sosial dapat menjadi ruang bagi guru untuk memberikan pengajaran tak langsung kepada murid-muridnya,” tuturnya.

Selain itu, guru sebaiknya menghindari konten yang provokatif dan negatif di media sosial.

Misalnya, hindari memposting komentar yang dapat memicu kontroversi, terutama dalam hal politik atau isu-isu sensitif. 

Murid dan masyarakat seringkali memperhatikan perilaku guru, dan konten yang tidak bijaksana dapat menurunkan wibawa guru di mata murid. 

“Guru yang bijak akan memikirkan dampak jangka panjang dari setiap postingan atau komentar yang ia bagikan di dunia maya, memahami bahwa apa yang ia sampaikan dapat memengaruhi cara murid berinteraksi secara digital,” imbuh Martiningsih.

Sikap dan bahasa yang digunakan di media sosial juga penting bagi seorang guru.

Menunjukkan empati, kesabaran, dan bahasa yang santun dalam komentar atau status dapat menjadi contoh nyata bagi para murid tentang bagaimana berkomunikasi dengan baik di dunia digital.

Ketika murid melihat guru mereka tetap tenang dan bijak dalam menanggapi suatu masalah, mereka akan terdorong untuk meniru perilaku tersebut. 

“Ini sekaligus mengajarkan kepada murid nilai-nilai etika komunikasi di era digital, yang sangat relevan dan penting dalam menghadapi dunia yang semakin terkoneksi,” jelasnya.

Terakhir, kata Martiningsih, seorang guru dapat berperan dalam mendorong literasi digital dengan cara mengajarkan pentingnya etika dan keamanan dalam bermedia sosial. 

Guru bisa membagikan tips tentang menjaga privasi, mengenali hoaks, dan memahami dampak dari jejak digital.

Dalam menyampaikan informasi ini, guru bukan hanya sekadar mendidik, tetapi juga menunjukkan bahwa media sosial bisa digunakan untuk hal-hal yang produktif dan bermanfaat.

“Dengan menjalankan peran sebagai panutan ini, guru dapat membantu membentuk generasi yang bijak dan bertanggung jawab dalam bermedia sosial, serta menjaga kepercayaan bahwa mereka adalah sosok yang layak ‘digugu dan ditiru’,” pungkasnya. (ind/nur)

Editor : Jay Wijayanto
#digugu lan ditiru #ruang digital #guru #ruang kelas