RADAR SURABAYA - Puluhan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang menempuh kuliah di Surabaya mengikuti Sinau Aksara di lantai 2 kantor Radar Surabaya di Jalan Kembang Jepun, Surabaya, Rabu (21/8).
Mahasiswa berbagai daerah yang tergabung dalam Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN) yang diasuh langsung oleh Mayjen (Purn) Gamal Haryo Putro juga menggali jejak sejarah yang ada di kawasan Kota Lama.
Belajar aksara Jawa yang merupakan bagian dari aksara Nusantara bagi salah satu peserta, Verly Berlian sangat menarik dan berbeda dengan aksara yang ada di daerah asalnya Sumatera Utara.
Meski tampak binggung dan kaku saat menulis, Verly terlihat antusias.
"Masih binggung ini pertama kali saya belajar dan menulis aksara Jawa," kata Verly.
Dia mengaku aksara Batak dan Jawa memiliki perbedaan, bahkan tingkat kerumitannya mengalahi dari aksara Batak.
"Bentuknya (aksara Jawa, Red) lebih menarik daripada aksara Batak. Kalau aksara Batak bentuknya setengah lingkaran terus ditambah garis-garis. Aksara Jawa melengkung dan itu lebih rumit," ungkap mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur ini.
Selama satu jam lebih Verly dan 24 kawannya belajar mengenal sekaligus belajar menulis nama masing-masing. Dia pun sangat tertantang untuk belajar aksara Nusantara ini.
"Ya tadi suruh nulis nama sendiri, sulit sih tapi asik, mungkin belum terbiasa saja," tuturnya.
Dia juga mengeksplor kawasan Kota Lama, apalagi ini pertama baginya untuk mengenal lebih dekat dengan fisik bangunan di kawasan kota lama.
"Terkesan banget karena ini pertama kalinya setelah setahun baru tahu kawasan kota lama di Surabaya. Otentik dengan nuansa kolonial," jelas mahasiswa jurusan desain komunikasi visual ini.
Sementara itu, Menurut Ketua Puri Aksara Rajapatni, Nanang Purwono, mengatakan, dengan mengenalkan secara fisik dan historis aksara Jawa diharapkan bisa terus memelihara aksara masing-masing daerah melalui aksara Jawa dan kota Surabaya.
"Ini sifatnya mengenalkan aksara Jawa yang ada di Surabaya. Ada hanacaraka, aksara dasar, ada suku pangkon, mereka kita ajari on the spot di kantor Radar Surabaya supaya bisa mengenal, mengenang dan terus terpatri dengan aksara yang ada di wilayah masing-masing," harap Nanang.
Ia menjelaskan bahwa sebelum bangsa asing masuk, kawasan kota lama merupakan rumah bagi orang Jawa dan Madura.
Dalam peta 1750 ketika VOC datang sudah ada perkampungan Jawa dan Sumenep.
"Ada bahasa Madura dan Jawa ketika mereka nulis ya menggunakan aksara Jawa. Itu yang kita perkenalkan agar tidak tertindas dab terbelenggu dengan bahasa asing yang terus tumbuh," terang Nanang.
Aksara Jawa merupakan bagian dari aksara Nusantara. Oleh karena itu dia ingin aksara Jawa ini menjadi pelecut anak muda saat ini untuk lebih mencintai aksara di daerahnya.
"Mereka bisa belajar tentang surabaya mempererat rasa persatuan dan kesatuan mereka yang berbeda-beda dari berbagai daerah menurut ku bisa tersatukan di Surabaya. Dengan mengenal sejarah kota yang tidak hanya kota pahlawan tapi kota ini kota kultural," tuturnya.
Setelah menjalani sinau aksara Jawa mereka diajak untuk menggali sejarah di Jembatan Merah hingga ke gedung Internatio.
Di sana mereka akan menari bersama sebagai rasa persatuan dan kesatuan bangsa. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari