RADAR SURABAYA - Saat ini cuaca di kota Surabaya sudah memasuki musim puncak kemarau sehingga suhu udara sangat panas.
Tak hanya itu puncak kemarau di Surabaya juga diikuti oleh angin yang sangat kencang daripada biasanya, yang disebabkan oleh angin timuran.
Kooordinator Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak Ady Hermanto mengatakan Agustus - September di Surabaya sudah memasuki puncak musim kemarau suhu udara bisa mencapai 34-35 derajat celsius.
Meski dikatakan Ady masih dalam tahap normal cuaca di Kota Pahlawan, pihaknya akan terus memantau perkembangan cuaca ekstrem yang bisa saja terjadi pada saat musim kemarau ini.
"Wilayah Surabaya sudah memasuki musim puncak kemarau. Kejadian ekstrem masih kita pantau terus dalam 2-3 hari ke depan. Namun secara klimatologis suhu udara tidak begitu naik secara tajam. Tapi mohon diwaspadai," kata Ady, Jumat (9/8).
Potensi hujan disertai dengan La Nina saat musim kemarau ini menurutnya sangat rendah terjadi di kota Surabaya, meski di beberapa tempat di Jawa Timur akan terjadi potensi tersebut.
"Potensi hujan memang ada di beberapa wilayah tapi tidak di Surabaya bahkan bisa dikatakan sangat rendah curah hujan saat musim puncak kemarau ini. Untuk efek La Nina sendiri juga dalam kategori rendah," tuturnya.
Kondisi angin saat musim kemarau di Surabaya akan mengalami peningkatan dari biasanya karena pengaruh tekanan tinggi dari Samudera Hindia.
"Untuk kecepatan angin sendiri mencapai 15 knot, memang diatas dari normal yang biasanya 10-12 knot. Hal ini dipicu oleh tekanan tinggi dari Samudera Hindia," jelas Ady.
Pengaruh kecepatan angin yang kencang juga mempengaruhi tinggi gelombang di perairan laut Surabaya. Ketinggian gelombang mencapai 1 meter lebih, sedangkan di bagian selatan Surabaya bisa mencapai 2 meter.
"Tinggi gelombang agak lebih tinggi dari hari biasanya," ungkapnya.
Ady mengimbau kepada masyarakat saat musim kemarau ini agar tidak membakar sampah dan membuang putung rokok sembarangan, karena angin cukup kencang dan dapat mengakibatkan api cepat berkobar karena pengaruh dari angin timuran.
"Masyarakat diimbau tidak membuang putung rokok dan membakar sampah sembarang. Selain itu bagi yang ingin keluar rumah supaya menggunakan pelembab kulit karena kulit juga bisa menyebabkan kering dan gunakan payung atau pelindung saat keluar rumah," imbaunya.
Sementara itu di bulan Oktober nantinya kondisi cuaca akan lebih panas tepatnya di Surabaya. Karena posisi matahari tepat di atas kota Surabaya.
"Posisi matahari akan memasuki khatulistiwa dan lebih panas pada 21 Oktober dan diatas 21 Oktober akan lebih panas lagi karena matahari tepat di khatulistiwa," terangnya.
Untuk musim penghujan pihaknya memprediksi akan mulai terjadi pada Desember. Sedangkan akhir November sudah memasuki musim peralihan atau pancaroba.
"Sebagian wilayah saat akhir November sudah ada yang hujan dan untuk Surabaya masih baru pancaroba di akhir November," pungkasnya. (rmt/jay)
Editor : Jay Wijayanto