RADAR SURABAYA – Penemuan tiga bunker di kawasan Kalimas Surabaya berawal dari berita sebuah harian terbitan Australia, The Sunday Sun, edisi 18 November 1945 yang memuat tulisan tentang bunker.
Pegiat sejarah Surabaya yang juga pendiri komunitas Roodebrug Soerabaia, Ady Setiawan, seperti dikutip dari Jawapos, mengatakan bahwa bunker itu memang masih menjadi misteri.
Sebab, pintu masuk dan keluarnya belum diketahui. Ada dugaan bahwa ruang bawah tanah tersebut terhubung ke Stasiun Surabaya Kota.
’’Sekilas, bangunannya mirip Benteng Kedung Cowek. Itu bisa dilihat dari jenis batu struktur penyusunnya,” kata Ady.
Seperti diketahui, ada tiga bunker yang ditemukan di belakang Stasiun Surabaya Kota itu. Pintu masuknya berada di tanggul sungai Kalimas. Namun letak bunker itu sulit ditelusuri karena sudah tertimbun reruntuhan dan tertutup.
Berdasar cerita Ady, penemuannya tak lepas dari keberadaan surat kabar asal Australia, The Sunday Sun. Keberadaan bunker itu diulas dalam edisi 15 hingga 18 November 1945.
Dalam tulisan itu, tutur dia, bunker peninggalan kolonial Belanda tersebut digunakan masyarakat Surabaya untuk berlindung. Sebab, saat itu ada tentara Inggris yang menyerang dalam perang 10 November 1945.
"Mereka (tentara Inggris, Red) ingin menguasai Stasiun Surabaya Kota. Adanya pertempuran itu dikuatkan adanya kerusakan di bagian jembatan kereta dekat bunker. Ada bagian jembatan yang penyok,’’ jelasnya.
Pria yang juga penulis itu menjelaskan, ada ciri khas yang dimiliki bunker tersebut. Salah satunya, keberadaan sumur di dekatnya. Masyarakat mengunakan sumber air itu untuk bertahan saat berlindung di bawah tanah.
Temuan tentang tiga bunker di kawasan Kalimas dekat Stasiun Surabaya Kota ini bisa disimpulkan posisinya sama-sama di tanggul Kalimas. Ketiga bunker dilengkapi sumur di dekatnya, kondisinya sudah runtuh dan tak utuh dan menjadi tempat persembunyian rakyat dan pejuang saat perang melawan tentara Inggris. (jpc/jay)
Editor : Jay Wijayanto