Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Galakkan Urban Farming, Ini Hasil Panen Poktan Dampingan DKPP Surabaya

Dimas Mahendra • Rabu, 17 Juli 2024 | 14:24 WIB
PANEN: Warga memanen melon di lahan urban farming di kawasan Jemur Wonosari, Surabaya, Selasa (16/7).
PANEN: Warga memanen melon di lahan urban farming di kawasan Jemur Wonosari, Surabaya, Selasa (16/7).
 
SURABAYA - Upaya untuk terus menggerakkan budaya urban farming terus digalakkan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya. Salah satunya adalah lewat pendampingan dan pemberdayaan kelompok tani (Poktan) Kota Surabaya. 
 
Kepala DKPP Kota Surabaya, Antiek Sugiharti  mengungkapkan, saat ini 290 poktan yang didampingi oleh pihaknya. Mereka semua menurut dia aktif terus melakukan kegiatan bercocok tanam melalui urban farming. Salah satu contohnya seperti poktan Caping Kota di Kelurahan Jemurwonosari. 
 
Baca Juga: Cuaca Dingin di Surabaya Sepekan Terakhir: Penyebab, Dampak dan Tips Mengantisipasinya
 
Poktan ini menurut Antiek memiliki spesialis budidaya buah melon. Dia menyebut, saat ini poktan caping itu bahkan sudah tiga kali panen. "Harapan kita tentunya tidak hanya menambah pendapatan warga di sini, tetapi juga mendorong untuk menjadikan sebagai pionir atau menyemangati kelompok tani yang lain bisa menghasilkan produksi seperti ini," kata Antiek saat hadir dalam panene raya melon di sana. 
 
Dalam menjalankan kegiatan urban farmingnya, poktan ini menurut Antiek menggunakan lahan fasilitas umum pemerintah. Dari pemanfaatan itu, pemkot juga membantuk untuk melakukan pembangunan green house di sana. Proses pendampingan yang dilakukan oleh DKPP menurut dia disesuaikan dengan klasifikasi masing-masing poktan. 
 
PANEN: Kepala DKPP Kota Surabaya Antiek Sugiharti bersama warga memanen melon di lahan urban farming di kawasan Jemur Wonosari, Surabaya, Selasa (16/7).
PANEN: Kepala DKPP Kota Surabaya Antiek Sugiharti bersama warga memanen melon di lahan urban farming di kawasan Jemur Wonosari, Surabaya, Selasa (16/7).
 
Hal itu, menurut Antiek, disesuaikan denganPeraturan Menteri Pertanian (Permentan) RI No 67 Tahun 2016 Tentang Pembinaan Kelembagaan Petani. Dimana pembinaan Poktan dilakukan sesuai kategori mulai Kelas Pemula, Kelas Lanjut, Kelas Madya dan Kelas Utama.
 
"Jadi pendampingan itu ada standarnya. Nah ini kami juga melakukan evaluasi setiap tahun. (Misal) ada yang naik kelas berapa, kita berikan sertifikat, karena ketentuannya harus ada sertifikat yang kita berikan untuk kelompok tani," paparnya.
 
Baca Juga: Polisi Amankan Laga Pembuka Piala AFF U-19 di Surabaya, Kerahkan 2.180 Personel
 
Sementara itu, Camat Wonocolo yang turut hadir dalam panen melon itu, Muslich Hariadi menambahkan, saat ini di wilayahnya sudah ada lima poktan dengan spesialis yang berbeda-beda. Poktan Caping ini merupakan salah satunya. Kemudian ada juga yang spesialis budidaya pisang cavendish, pepaya california dan ikan lele yakni poktan Minasari. 
 
Ke depan, Muslich menambahkan, Poktan Caping inu akan lenih mengembangkan lagi budidaya melon di lahan setempat. Tujuannya adalah untuk menambah kuantitas bibit melon yang dibudidayakan. Sebab, dia mengakui, hasil pendampingan DKPP untuk budidaya melon pada poktan tersebut sangat bagus. 
 
"Ini sekarang masih 325 melon hasilnya, dengan rata-rata (berat) satu melon 1-1,5 kilogram. Nah ke depan kalau ini ditambah lagi bisa 456 (buah), sudah kita hitung dan di lokasi ini sudah bisa mengentaskan dua orang warga miskin," ujarnya. (dim) 
Editor : Jay Wijayanto
#kelompok tani #urban farming #dkpp surabaya