Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pengamat Budaya Sebut Kota Lama Surabaya Bukan Sekadar Tempat Wisata, tapi Bisa Digunakan untuk Belajar Sejarah

Dimas Mahendra • Selasa, 25 Juni 2024 | 01:46 WIB

 

JALAN-JALAN: Suasana malam yang romantis dengan naik kereta kelinci di kawasan zona Etopa Kota Lama Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)
JALAN-JALAN: Suasana malam yang romantis dengan naik kereta kelinci di kawasan zona Etopa Kota Lama Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya saat ini terus memperispkan launching objek wisata kawasan Kota lama.

Rencananya, kawasan wisata Kota Lama akan diresmikan pekan ini.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, rencananya kawasan wisata Kota Lama akan diresmikan pada 27 Juni nanti.

Peresmian tersebut bersamaan dengan kunjungan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie, sekaligus memberikan bantuan 20 unit sepeda listrik untuk Pemkot Surabaya.

Pengamat budaya dari Komunitas Begandring Soerabaia, Nanang Purwono mengatakan, Kota Lama bukan sekadar sebuah tempat wisata.

Akan tetapi juga menjadi tempat budaya yang mempesona.

“Kawasan Kota Lama juga bisa dijadikan sebagai tempat belajar tentang sejarah,” ungkap Nanang, Senin (24/6).

Bahkan, lanjut Nanang, Kota Lama juga bisa dijadikan sebagai tempat berburu kuliner lezat, dan merasakan atmosfer harmonis dari perpaduan budaya yang unik.

“Kota Lama adalah bukti nyata bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan persatuan adalah kunci untuk mencapai kemajuan sebuah kota,” sambungnya.

Sebenarnya, lanjut Nanang, kawasan Kota Lama terdiri dari lima bagian.

Yaitu zona Arab, Eropa, Melayu, Pecinan, dan Jawa atau pribumi.

Ia menjelaskan, letak zona Jawa tersebut berada di sekitar Ampel Denta.

Alasannya, karena di zona ini banyak ditemukan tulisan aksara Jawa.

Maka dari itu, ia berharap kepada Pemkot Surabaya untuk menelisik lebih dalam lagi keberadaan zona Jawa atau pribumi ini.

Tujuannya, agar bagian dari sejarah terbentuknya Kota Surabaya tidak terlupakan.

“Bahkan kata Ampel Denta itu berasal dari kawasan Ampel yang banyak ditumbuhi pohon bambu. Karena pohon bambu kalau terkena angin berbunyi atau berdenta-denta menjadi sebuah bunyi bunyian,” pungkasnya. (dim/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#Begandring Soerabaia #Pengamat Budaya Jawa #zona jawa #wali kota surabaya #kota lama surabaya #Eri Cahyadi #NANANG PURWONO