RADAR SURABAYA - DPRD Kota Surabaya meminta pemerintah kota untuk memperhatikan jumlah kerja sama dengan perguruan tinggi terkait Beasiswa Pemuda Tangguh.
Sebab, saat ini jumlah perguruan tinggi yang bekerja sama dengan pemerintah baru ada 12 kampus saja.
Ketua Komisi D DPRD Surabaya Khusnul Khotimah menyampaikan, Surabaya memiliki banyak sekali kampus.
Sehingga, ketika hanya ada 12 kampus saja maka penerapan program Beasiswa Pemuda Tangguh ini dianggap kurang merata.
"Kita minta lakukan kajian ulang karena masih banyak perguruan tinggi swasta (PTS) yang belum bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya," kata Khusnul, Selasa (7/5).
Khusnul menyebutkan, beberapa perguruan tinggi yang sudah bekerja sama itu seperti ITS, Unair, UPN, UINSA, PENS, PPNS, dan Universitas Terbuka Surabaya.
Hal ini menurut dia perlu ditambah agar program yang berkaitan dengan pendidikan bisa merata di Kota Surabaya.
"Karena faktanya kampus di Surabaya ini tidak hanya itu saja yang tercantum itu saja," ucap legislator dari Fraksi PDI Perjuangan itu.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Surabaya Hidayat Syah mengaku menerima masukan dari DPRD Kota Surabaya itu.
Hanya saja untuk pengaplikasiannya, dia mengaku masih membutuhkan waktu agar dapat dikaji ulang terlebih dahulu.
"Iya nanti kita kaji dulu itu. Program ini memang diperuntukkan untuk pemerataan pendidikan Surabaya," kata Hidayat.
Hidayat menyebut, tahun ini program Beasiswa Pemuda Tangguh ini menyasar 800 mahasiswa-mahasiswi di Surabaya.
Secara keseluruhan, sudah ada 3.100 peserta yang menerima program bantuan dari pemerintah kota itu.
Nilai anggarannya mencapai angka Rp 46 miliar.
"Mereka yang menerima program ini itu mendapat Rp 1,25 juta. Rinciannya untik uang saku dan uang penunjang pembelajaran. Kemudian mereka juga menerima bantuan untuk Uang Kuliah Tunggal (UKT)," ujarnya. (dim/opi)
Editor : Nofilawati Anisa