RADAR SURABAYA - Perkembangan bonsai di Kota Surabaya saat ini, disebut luar biasa pesatnya.
Bahkan dalam beberapa tahun ini penggemar bonsai di Kota Pahlawan sudah berani mengekspor ke beberapa negara.
Sayangnya permintaan pasar di dunia pun tak sebanding dengan barang yang dimiliki oleh para petani maupun penggemar bonsai.
Nah, untuk mewadahi para pemula yang menggemari bonsai agar memenuhi pangsa pasar bonsai dunia, kontes dan pameran bonsai se-Surabaya digelar di atrium ground floor Grand City Mall Surabaya, Rabu (24/4).
Kontes bonsai ini diikuti oleh 179 bonsai. Peserta tidak hanya dari Surabaya saja namun ada yang berasal dari Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Bangkalan hingga Pamekasan.
Pameran dan kontes level regional yang digelar oleh Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PBBI) Cabang Surabaya ini terlihat beda dari biasanya yang menggunakan area outdoor, namun kali ini digelar di ruangan atau indoor dengan konsep internasional bonsai show exhibition.
"Konsep selama ini baik pameran maupun kontes biasanya di outdoor tapi saya ingin sekarang di indoor supaya lebih ekslusif, untuk bisa menaikan harkat martabat petani bonsai Surabaya pada khususnya," kata Pembina Panitia Kontes dan Pameran Bonsai Yusli Erwandi, Rabu (24/4).
Dengan konsep indoor ini ia mempunyai target ke depan bonsai bisa menjadi ladang ekspor dan Surabaya bisa menjadi pusat eksportir bonsai.
Bahkan ia mengajak petani pemula bonsai agar berani ekspor.
"Target saya ke depan bisa ekspor bonsai Surabaya bisa jadi pusatnya eksportir bonsai. Karena saya beberapa kali ekspor dan permintaan cukup banyak tapi kita gak mampu karena barangnya yang diminta pasar dunia gak ada," ungkapnya.
Pria yang juga ketua ranting Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PBBI) Wonocolo, Surabaya itu menjelaskan dalam kontes kali ini ada ada dua kelas yakni kelas prospek dan kelas pohon jadi.
Dua kelas itu mempunyai penilaian masing-masing.
"Kalau di kontes lokal kali ini kita ada dua kelas prospek yang dinilai gerak dasar saja dan pohon jadi yang dinilai mulai dari gerak batang, kematangan dan penampilan secara keseluruhan," terangnya.
Berbagai bonsai yang menjadi andalan juga terlihat di kontes tersebut, seperti bonsai pohon santigi hingga anting puteri yang harganya bisa mencapai puluhan juta.
Bonsai santigi menjadi andalan Indonesia dan selalu juara dalam berbagai kontes.
Pohon santigi biasa tumbuh di pinggir pantai di negara tropis seperti Indonesia, Filipina, maupun Vietnam.
Ia berharap ke depan para petani bonsai pemula lebih berani lagi dalam menampilkan bonsainya.
Mengingat prospek bonsai saat ini lebih menjanjikan.
Apalagi kontes ini diikuti dikhususkan pada pemula.
"Di Surabaya sendiri perkembangan sangat luar biasa, dulu penggemar bonsai rata-rata tua-tua sekarang sudah merambah ke anak mudah hingga siswa di sekolah. Bahkan UMKM juga sudah bertumbuhan, cuma belum terarah. Mangkanya kedepan kita inginkan penjualan mereka lebih terarah," harap Yusli.
Pameran dan kontes bonsai ini mempunyai tema Gandeng Renteng.
Diharapkan bisa merangkul seluruh penggemar maupun petani bonsai terutama di Surabaya bisa terwadahi.
Bonsai sendiri booming di Indonesia sekitar awal tahun 1980-an.
Indonesia pun masih kalah dengan negara lainnya seperti Vietnam yang sudah memiliki bonsai yang berusia 80 tahun hingga 100 tahun. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa