Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Rohana Kudus, Sahabat Pena RA Kartini, Pejuang Emansipasi Wanita, Begini Kiprah dan Gagasannya

Lambertus Hurek • Kamis, 25 April 2024 | 14:35 WIB
Rohana Kuddus sahabat pena RA Kartini dan tokoh emansipasi wanita dari Sumatera Barat (IST).
Rohana Kuddus sahabat pena RA Kartini dan tokoh emansipasi wanita dari Sumatera Barat (IST).

RADAR SURABAYA - Setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Raden Adjeng Kartini lebih dikenang padahal banyak perempuan Indonesia hebat lainnya. Salah satunya karena Kartini menuliskan ide dan pemikirannya yang visioner tentang wanita Indonesia.

Wanita Indonesia lain yang berjuang melalui penanya antara lain ada Rohana Kuddus, yang berasal dari Sumatera. Dia lahir pada 20 Desember 1884 di lembang Ngarai Sianok Bukit Tinggi.

Dia adalah saudara tertua sebapak dengan Sutan Syahrir dan satu keturunan dengan Haji Agus Salim. Ayahnya seorang Jaksa bernama Muhammad Rasjad gelar Maharaja Sutan.

Tidak seperti Kartini, Rohana tidak pernah mendapatkan pendidikan formal. Sejak usia 6 tahun ia belajar membaca dan menulis serta mengaji pada serorang istri jaksa bernama Adiesa yang sudah mengangggap anaknya sendiri.

Rohana juga mendapatkan ketrampilan jahit menjadi dan bordir. Kerajinan bordir, ia dapatkan dari neneknya bernama Sini Tarimin yang terkenal sebagai ahli membordir dan pernah mendapatkan medali penghargaan dari pemerintah Hindia Belanda.

Kemampuan membaca dan menulis, juga mengaji Quran serta ketrampilan jahit menjahit dan membordir ia ajarkan juga pada anak-anak di kampungnya hingga berdiri sekolah wanita pertama di Indonesia pada tahun 1892.

Kartini baru memulai mengirim surat pada tahun 1900.

Dari pengalamannya sebagai guru, mulailah bibit keresahan bersemai di hatinya. Di masa itu kaum wanita seakan tak ada gunanya, ruang lingkup dibatasi adat dan agama yang sangat kolot. Ia bertekad mendobrak segala halangan dan rintangan demi kemajuan kaumnya kaumnya.

Pada 11 Februari 1911 berkat gagasannya, berdirilah sebuah perkumpulan wanita pertama di Indonesia bermana “Kerajinan Amei Setia (KAS)”.

Amei ini artinya wanita; Tujuan dari organisasi ini adalah : memberi pelajaran membaca dan menulis baik latin maupun Arab setingkat sekolah rakyat; memberi pendidikan rohani dan akhlak menurut ajaran agama; dan mengajarkan berbagai keterampilan rumah tangga.

Di tahun 1911, karya bordirnya terpilih untuk dipamerkan di pameran international di Bussel Belgia . Rohana mendapat undangan untuk datang, namun sayangnya ia tidak dapat hadir.

Ide dan pemikirannya tentang perempuan ia tuangkan dalam tulisan. Tulisan pertamanya ia kirim ke suratkabar Tjahaja Soematera di Padang. Syair-syair sastranya sering di muat di Oetoesan Melayu. Cita-cita yang diperjuangkannya sama dengan yang terlukis pada surat-surat Kartini.

Sama halnya seperti Kartini juga dibela oleh sahabat-sahabat Belandanya. Ia juga pernah berkorespondensi dengan Kartini dan Dewi Sartika (tokoh pejuang perempuan dari Jawa Barat)

Melihat bakat menulisnya, pemimpin surat kabar Oetoesan Melajoe, Dt St. Maharadja mengajaknya menjadi redaktur surat kabar wanita pertama di Minangkabau (bahkan di Indonesia) yaitu surat kabar Soeting Melajoe.

Rohana Kuddus merupakan wartawati pertama. Sunting Melayu tercatat sebagai surat kabar wanita pertama yang pernah terbit di Indonesia.

Ketika usianya sudah lanjut, beliau masih suka menulis dan dikirim ke harian Keng Po, Sin Po, Pedoman, sebelum koran-koran tersebut ditutup pada tahun lima puluhan. Rohana Kuddus meninggal dunia dalam usia 88 tahun, tepatnya pada 16 Agustus 1972 di Jakarta. (berbagai sumber/rek)

Editor : Lambertus Hurek
#kiprah rohana kuddus #hari kartini #emansipasi wanita #rohana kudus #emansipasi perempuan #Emansipasi Perempuan Dalam Pembangunan Era Digital