RADAR SURABAYA - Pemkot Surabaya terus berupaya mengubah Taman Remaja Surabaya (TRS) dan Taman Hiburan Rakyat (THR). Kebijakan itu sudah bergulir sejak akhir tahun lalu. Tapi, sampai sekarang prosesnya berjalan alot.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, banyak investor tertarik untuk menghidupkan lagi destinasi wisata legendaris di Jalan Kusuma Bangsa, Surabaya, tersebut. Rencana awalnya tempat itu menjadi wahana permainan.
Seiring berjalannya waktu, konsep itu batal terealisasi. "Mengajukan konsep baru, tempat konser," ujar Cak Eri, Jumat (29/3).
Dia menyebutkan, ada sekitar empat investor. Jumlah itu termasuk investor lama yang mengajukan konsep wahana permainan. Namun, ada sejumlah faktor yang menyebabkan investor tersebut mengajukan tempat konser.
"Investor wahana dihitung tidak mencukupi, BEP lama, akhirnya mengajukan tempat konser. Kita masih bahas lebih lanjut. Jadi, bukan investor lama karena ada empat masuk dan semua konsepnya tempat konser," ungkapnya.
Menurut Cak Eri, investasi untuk mengubah THR dan TRS menjadi tempat hiburan itu memang terus berlangsung. Tapi, pemkot pun memiliki kriteria yang diberikan pada investor. Misalnya, kalau menjadi tempat hiburan, tiket masuk maksimal Rp 25 ribu.
"Ada kemarin investor tempat hiburan masih menghitung, ternyata belum mampu jumlahnya," ucapnya.
Persoalannya bukan terkait biaya sewa. Sebelumnya, memang pemkot meminta tarif masuk rendah untuk memudahkan warga Surabaya menikmati tempat legendaris tersebut. Artinya, pemkot meminta destinasi wisata yang jangka panjang.
"Kalau los Rp 100 ribu, larang podo ae. Kita meminta masuknya Rp 25 ribu maka investasinya dihitung. Bukan hanya appraisal tanah berapa, kalau harga mahal tidak mempertimbangkan Rp 25 ribu bisa," beber orang nomor satu di Surabaya itu.
Cak Eri menyampaikan, banyak investor mengajukan tempat konser. Sebab, Kota Pahlawan belum memiliki fasilitas tersebut. Namun, pihaknya masih mempertimbangkan dan mengkaji dengan para ahli.
"Karena kalau sudah mendatangkan level internasional, membutuhkan kapasitas berapa puluh ribu dan hari ini di Surabaya belum mencukupi ini," jelasnya.
Proses tersebut masih digodok. Pemkot dengan para investor menghitung. Yaitu, memastikan wacana mengubah THR dan TRS menjadi tempat konser itu dapat terealisasi atau tidak.
"Memang di Surabaya tidak ada, di Jakarta buanyak. Ada syarat yang harus dipenuhi menjadi tempat konser. Semuanya jadi satu sampai belakang," pungkas Cak Eri. (hil)
Editor : Lambertus Hurek