AMPEL Denta sangat erat hubungan nya dengan Raden Rahmat, hingga ia mendapat julukan Sunan Ampel karena ia telah lama bersinggah di kawasan Ampel atau Ampel Denta dan menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.
Raden Rahmat menjadi tokoh agama yang sangat penting di Surabaya sebagai pelopor penyebaran agama Islam di Pulau Jawa pada abad ke-15 dengan mendirikan pondok pesantren yang berkembang pesat dan dikenal di nusantara.
Pesantren ini melahirkan tokoh-tokoh besar agama Islam mulai Sunan Giri dan Raden Patah yang berperan penting dalam penyebaran Islam dan bersinggungan langsung dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara pada masa itu.
Di pesantren ini pula kedua putra Sunan Ampel, yakni Sunan Bonang dan Sunan Drajad memperdalam ilmu agamanya dan melanjutkan misi dakwah ayahnya untuk menyebarkan ajaran agama Islam di Pulau Jawa dan kawasan Madura.
Ketika Kerajaan Demak akan didirikan, peran aktif turut dilakukan oleh Sunan Ampel dalam mendirikan kerajaan Islam pertama di Jawa itu.
Ia memimpin inisiatif tersebut dan secara pribadi menunjuk Raden Patah, santrinya, sebagai Sultan Demak pada tahun 1475 M, mengikuti catatan Babad Tanah Jawi yang menyatakan bahwa Raden Patah adalah putra dari Prabu Brawijaya V, Raja terakhir dari Majapahit.
Kawasan Ampel yang kala itu berada dalam kekuasaan Majapahit, di tangan Raden Rahmat (Sunan Ampel) menjadi sangat berkembang.
Tak hanya menjadi pusat pesantren Islam, melainkan telah menjadi pusat administrasi lokal. Sunan Ampel pun mengurusi hal-hal lain selain pengembangan agama seperti sosial, ekonomi, dan perkembangan kebudayaan.
Berkembangnya kawasan Ampel dan peran besarnya mendesain kerajaan Islam di Jawa dan meng-Islam-kan beberapa raja di nusantara menarik perhatian masyarakat luar Pulau untuk berbondong-bondong mendatangi wilayah tersebut, terutama untuk berdagang.
Dimulai sejak tahun 1451, dimana orang-orang Timur Tengah pun mulai berdatangan ke wilayah ini, terlebih mereka mendengar bahwa ada wali penyebar agama di wilayah itu.
Majunya perekonomian di wilayah Ampel Denta pun membuat oorang-orang dari berbagai negara, suku, agama, dan ras memadati wilayah sekitarnya.
Maka tak heran jika sekarang bisa ditemui berbagai macam ciri khas budaya atau bangunan yang bercampur di wilayah sekitar masjid Ampel. Selain ciri khas Kampung Arab, bangunan dengan arsitektur China, Jawa bahkan Eropa berkembang di kawasan ini. (khz/mg3/rei/jay)
Editor : Jay Wijayanto