RADAR SURABAYA - Pemkot Surabaya mulai melirik transformasi energi untuk menjaga lingkungan.
Salah satu kebijakannya mengupayakan menyetop pengadaan kendaraan konvensional.
Mulai transportasi umum hingga kendaraan dinas.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, pemkot akan mengkaji transformasi energi.
Yaitu, mengganti seluruh kendaraan konvensional ke listrik. Rencananya akan direalisasikan tahun depan.
“Ini masih kajian, tapi memang untuk peningkatan kualitas lingkungan, di situ kita akan melakukan, tapi belum semuanya pakai bus listrik,” ujar Cak Eri, sapaan karib wali Kota Eri Cahyadi, Selasa (26/12).
Menurutnya, transformasi energi bakal dilakukan bertahap.
Sebab upaya pergantian secara total memerlukan waktu yang lama dan biayanya mahal.
Salah satu upayanya yaitu setiap pengadaan, pemkot memilih kendaraan listrik.
“Yang baru-baru dipakai pemkot kita berharapnya menggunakan listrik. Jadi harapannya bisa menjaga lingkungan,” terangnya.
Cak Eri pun berencana menyulap kendaraan dinas di lingkup pemkot. Dia bakal mengganti dengan kendaraan listrik.
Tapi, katanya, upaya masih perlu ada hitungan yang jelas.
"Pasti ada hitung-hitungannya. Kalau bus kemarin sistemnya BTS, jadi kita enggak perlu memikirkan biaya perawatan yang berkala. Mungkin bisa saja, kendaraan dinas kita lelang, kemudian diganti mobil listrik," terangnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya Aning Rahmawati mendukung rencana itu.
Pihaknya sepakat dengan penambahan armada transportasi umum tahun depan.
Pengadaan itu sudah disetujui dalam rapat pembahasan APBD 2024 yang disahkan pada 10 November lalu.
"Untuk pengadaan 22 unit bus listrik, alokasi anggarannya sampai Rp 19 miliar. Penambahan armada transportasi publik ini sangat urgent sebagai wajah kemajuan kota," tutur Aning.
Dia menilai, Kota Surabaya sudah saatnya memiliki transportasi yang modern dan berkualitas. Salah satunya adalah bus listrik.
Selain lebih nyaman, armada itu diharapkan lebih bisa menghasilkan pendapatan daerah.
"Apalagi, ini kan sistemnya BTS. Pemkot tidak perlu mengeluarkan biaya perawatan," imbuhnya. (hil/opi)
Editor : Nofilawati Anisa