SURABAYA – Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di depan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan Universitas Bhayangkara (UBHARA) Surabaya kondisinya sangat memprihatinkan. Sarana bagi pejalan kaki tersebut kondisinya kini kurang terawat dan tampak membahayakan. Padahal, sebuah kota seharusnya memuliakan para pejalan kaki atau kaum pedestrian.
JPO di depan kampus UINSA ini keberadaannya sudah sejak lama. Jauh sebelum adanya frontage road Jalan Ahmad Yani. Namun, kondisi jembatan tersebut kini sudah jauh dari kata layak bahkan cenderung membahayakan.
Seperti yang dirasakan Tasya Kusumawardhani, mahasiswi UINSA yang setiap hari harus menyeberang jalan untuk pergi dan pulang dari kampus UINSA dengan naik armada Suroboyo Bus.
“Kalau siang, aku berani lewat JPO. Tapi kalau malam, aku pilih diantar teman untuk ke halte UBHARA atau naik Suroboyo Bus dari halte UIN. Habis itu nanti turun ke Siwalankerto atau Jemur Ngawinan, terus naik JPO yang ada di sana (dekat Taman Pelangi), lebih aman,” jelas mahasiswi semester 5 itu.
Dari pengamatan Radar Surabaya, kondisi JPO di depan UINSA memang cukup memprihatinkan. Lantainya banyak tambalan besi karena keropos, dan tidak ada atap yang membuat pejalan kaki merasa kepanasan atau kehujanan jika musim hujan.
Selain itu, untuk naik dan turun tangga cukup merepotkan karena pejalan kaki harus menyeberang ke frontage road yang lalu lintasnya cukup ramai. Baik dari arah UINSA maupun UBHARA.
Bahkan jika malam hari, kondisinya sangat gelap sehingga rawan terjadi aksi kejahatan. Mirisnya, JPO tersebut berada tepat di depan Kantor Polda Jawa Timur. Mahasiswa mengeluhkan ketiadaan petugas atau polisi yang membantu menyeberangkan ke JPO.
Pada jam sibuk seperti pulang kerja dan kuliah, JPO ini cukup ramai digunakan. Mereka yang ingin naik Suroboyo Bus ke arah Bungurasih atau sebaliknya, pasti menggunakan JPO ini sebagai sarana menyeberang ke halte tujuan.
Meski kurang aman dan nyaman menggunakan JPO ini, namun pejalan kaki tidak punya pilihan lain. Sebab hanya JPO inilah satu-satunya akses tercepat untuk sampai ke halte UINSA maupun UBHARA.
Namun jika malam tiba, JPO ini nyaris tidak digunakan. Tidak ada pejalan kaki yang mau lewat JPO ini karena kondisinya menyeramkan. Tidak ada lampu yang menerangi jembatan sehingga rawan terjadi aksi kejahatan, atau pejalan kaki bisa terjatuh sata naik tangga. Kondisi yang gelap juga membuat pejalan kaki was-was dan memilih untuk tidak menyeberang lewat JPO.
“Di sini itu kalau malam gelap. Terus banyak sampah berserakan,” keluh Silvi Mardlotillah, mahasiswa UINSA Prodi Aqidah dan Filsafat Islam.
Perempuan yang kerap disapa Silvi ini mengaku kesusahan saat menyeberang. Terutama di malam hari. Tidak ada lampu penerangan jalan ketika naik atau turun jembatan membuat dia sangat waswas dan ekstra hati-hati dengan kendaraan yang melaju kencang di frontage road.
Dia juga merasa khawatir melihat bangunan JPO yang terlihat sudah sangat tua. Silvi takut jika sewaktu-waktu jembatan itu runtuh saat dilewati. Apalagi tepat di bawah bangunan tersebut terdapat rel yang cukup sibuk lalu lalang kereta api.
“Harapan saya buat jembatan penyeberangan ini ditambah lagi fasilitasnya, kayak lampu penerangan. Terus kalau bisa dikasih CCTV, soalnya kan di sini jarang dilewati orang. Nanti kasihan orang lagi sendirian terus ada apa-apa gak ada saksi mata gimana,” tambah mahasiswa asal Sidoarjo tersebut.
Kondisi yang berbeda ada di JPO Taman Pelangi yang berdekatan dengan JPO UINSA. JPO di sebelah selatan Taman Pelangi ini memiliki tangga penyeberangan yang dekat dengan trotoar sehingga sangat memudahkan pejalan kaki mengaksesnya.
Meski sama-sama tidak memiliki lampu, namun JPO Pelangi memiliki atap membran sehingga cahaya dari lampu penerangan jalan umum (PJU) dapat menembus ke dalam. Selain itu JPO Taman Pelangi ini juga dilengkapi lift yang sangat membantu kaum disabilitas dan orang jompo.
Sayang, lift di JPO yang menghubungkan Jalan Jemur Ngawinan dengan Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan ini memiliki bau yang tidak sedap. Sehingga membuat orang kurang nyaman berada di dalamnya. Selain ketiadaan kamera CCTV sehingga rawan terjadi tindak kejahatan. (mg2/jay)
Editor : Jay Wijayanto