SURABAYA - Jalan Demak merupakan salah satu area pasar barang bekas yang ada di Kota Surabaya. Konon aktivitas perdagangan barang bekas ini sudah ada sejak akhir abad 19.
Sejarawan Kota Surabaya Purnawan Basundoro mengungkapkan, pada satu sisi Kota Surabaya berkembang menjadi pusat kemajuan di Ujung Timur Jawa.
Namun, pada sisi lain menunjukkan adanya penumpukan masyarakat miskin di perkotaan akibat urbanisasi yang berlebih.
Kota Surabaya sebagai kota yang memiliki kegiatan ekonomi paling dinamis pada akhir abad ke-19, mampu menarik para pendatang untuk berbondong-bondong masuk ke kota.
“Meskipun belum ada jaminan secara pasti kehidupan seperti apa yang harus dijalani oleh para pendatang. Namun, kota memberikan banyak alternatif pekerjaan, diantaranya berdagang barang bekas,” ujarnya.
Diketahui sekitar akhir tahun 1970-an aktivitas perdagangan barang bekas di Jalan Semarang dan Jalan Panghela harus mengalami penertiban karena adanya pelebaran jalan dan perbaikan saluran air.
Pembebasan jalan dari aktivitas perdagangan barang bekas juga terjadi di Jalan Bojonegoro dan Jalan Gundih. Sehingga, banyak para pedagang barang bekas berpindah ke Jalan Demak untuk berdagang.
Keberadaan pedagang barang bekas yang semakin banyak di Jalan Demak telah mengganggu ketertiban lalu lintas. Bahkan, orang-orang yang berjalan kaki sulit melalui Jalan Demak dengan nyaman. Sehingga kegiatan perdagangan barang bekas di Jalan Demak juga mengalami penertiban.
Sekitar tahun 1978 Jalan Demak kembali memperlihatkan aktivitas perdagangan barang bekas Munculnya pedagang baru di Jalan Demak diakibatkan oleh perpindahan para pedagang barang bekas Pasar Bibis yang berada di Jalan Karet.
Sementara itu Ketua Komunitas Begandring Soerabaia Nanang Purwono mengatakan nama Jalan Demak merupakan salah satu nama jalan yang dibentuk seperti nama-nama kota di wilayah barat pulau Jawa. “Jadi di sekitaran Jalan Demak, bisa dijumpai ada Jalan Jepara, Jalan Semarang, Jalan Tuban, dan Jalan Purwodadi,” jelasnya. (mus/nur)
Editor : Jay Wijayanto