SURABAYA – Keluarga mendiang Ervin Sukma Pringgodadi, korban pengeroyokan di Pasar Uka, Sememi, kecewa lantaran pihak keluarga pelaku meminta agar laporan penganiayaan kepada Ervin segera dicabut. Triwiana, 55, kakak kandung korban, mengaku sempat didatangi oleh seseorang yang mengaku keluarga salah satu pelaku.
Tujuannya agar Triwiana mau berdamai dan tidak melanjutkan proses hukum. “Yang malah bikin kecewa, adik saya dituduh sengaja menyenggol payudara dari salah satu istri pelaku. Itu kondisi pasar ramai. Adik saya dalam kondisi membawa barang besar,” ujar Triwiana, kemarin.
Pertemuan itu terjadi pada Sabtu (19/8) siang. Menurut Triwiana, keluarga pelaku tiba-tiba menyerahkan sebuah kertas yang berisi permohonan pencabutan tuntutan. Namun, Triwiana langsung menolaknya. “Dia (keluarga pelaku) bawa surat, terus saya baca isinya. Saya langsung bilang tidak mau, (karena) itu isinya surat pernyataan tidak melanjutkan kasus,” imbuhnya.
Usai ditolak, keluarga pelaku terus-menerus meminta agar Triwiana mau menandatangani surat damai. Dengan alasan kemanusiaan. Namun, kakak ketiga korban itu tetap melakukan penolakan. Ia menuntut keadilan agar pihak kepolisian yang mengungkap kasus ini secara terang. “Pokoknya saya enggak mau (menyelesaikan masalah) di luar polisi, saya tetap jawab enggak mau,” ucapnya.
Triwiana sendiri percaya korban tidak sengaja menyenggol dada istri pelaku pengeroyokan. Sebab, dia sangat mengenal tingkah laku dari adiknya tersebut. Ia pun meragukan keterangan perempuan penjual gorengan yang mengaku menjadi korban pelecehan seksual. “Kalau sengaja memegang itu tidak mungkin. Memegang dengan apa? Kedua tangan Ervin saat itu menggendong keranjang sayuran terus dipikulnya,” jelasnya.
Sebelumnya, petugas medis menemukan pendarahan di bagian kepala dan luka dalam di dinding perut dan pankreas. Selain itu, ada sejumlah luka lebam di sekujur tubuh Ervin alias Arifin. Hasil ini juga membantah keterangan polisi sebelumnya yang menyebut bahwa korban hanya mengalami luka lecet di bagian siku.
Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya Kompol Teguh Setiawan mengatakan, petugas menemukan adanya tanda-tanda penganiayaan dan kekerasan di tubuh korban. Namun, pihaknya masih menunggu hasil resmi otopsi dan ekshumasi.
“Ada luka memar di bagian dada dan punggung. Petugas menemukan pendarahan di bagian kepala dan luka di dinding perut,” ujar Teguh. (rus/rek)
Editor : Jay Wijayanto