DAHULU, Surabaya memiliki dua bangunan yang disebut istana. Bangunan yang disebut istana ini sebenarnya adalah rumah tinggal yang memiliki bentuk arsitektur kolonial atau rumah loji. Yakni Istana Kupang dan Istana Simpang.
Ketua Komunitas Begandring Soerabaia Nanang Purwono mengatakan, pada era kekuasaan Verenigging Oost Indisch Compagnie (VOC) dalam kurun waktu 1612-1799, Surabaya memiliki dua istana tempat tinggal pejabat tinggi VOC. "Yakni Istana Kupang dan Istana Simpang," katanya.
Nanang mengatakan, Istana Kupang berada jauh di luar batas kota Surabaya (Stad van Sourabaya). Wilayahnya disebut Kupang.
"Perbukitan Kupang ini cukup indah dipakai sebagai tempat peristirahatan. Karenanya di tempat ini didirikan sebuah loji besar yang layak disebut istana. Istana Kupang," katanya.
Istana Kupang selanjutnya secara umum sampai sekarang dikenal sebagai Gedung Setan yang ada di seberang Jalan Banyu Urip. Rumah berarsitektur kolonial ini terhitung bangunan paling tua sebagai peninggalan dari era pendudukan Belanda, khususnya dari VOC, di Surabaya.
"Istana Kupang ini pernah dihuni oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda, Carel Reynierz yang ke-11, yang memerintah antara tahun 1650-1653," katanya.
Sementara itu, lanjut Nanang, Istana Simpang sekarang Gedung Grahadi. Istana ini berada di tepian sungai Kalimas. "Pada awal pembangunan, secara fisik istana ini menghadap ke Kalimas, karena Kalimas menjadi sarana transportasi dan perhubungan antara Istana dan kantor penguasa yang disebut Gezaghebber. Kantornya berada di Stad van Sourabaya, persis berdiri di barat Jembatan Merah," katanya.
Istana Simpang ini juga disebut sebagai Rumah Taman (Tuinhuiz) kerena letaknya persis di tengah-tengah taman yang teduh dan rimbun. Pembangunan istana ini diinisiasi oleh Gezaghebber Dirk van Hogendorp (1794-1798) pada tahun 1796.
"Istana ini dirombak oleh Gubernur Jendral Daendels pada 1808. Wajah depan, yang semula menghadap ke sungai Kalimas, kemudian disesuaikan dibuat menghadap ke belakang, menghadap ke jalan yang menjadi bagian dari Jalan Raya Daendels atau Jalan Raya Pos," pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Jay Wijayanto