Kepala Forcester BMKG Tanjung Perak Muhammad Arif Wiyono mengatakan, saat ini cuaca di Surabaya sudah memasuki musim transisi dari musim penghujan ke musim kemarau. Namun yang patut diwaspadai saat musim transisi adalah hujan yang sporadis disertai dengan petir serta gluduk (guntur). Tak hanya itu, puting beliung juga patut diwaspadai ketika masa transisi ini.
"Cuaca pada pancaroba patut diwaspadai adanya hujan yang sporadis, petir hingga puting beliung. Karena merupakan puncak dari musim penghujan," kata Arif, Jumat (31/3).
Bahkan ia menyebut, untuk Surabaya saat ini masih terdapat hujan hingga April mendatang, berbeda dengan daerah lain di Jatim saat bulan April beberapa ada yang sudah memasuki musim kemarau.
"Bulan April untuk Surabaya masih transisi, artinya masih terdapat hujan yang sporadis dan disertai petir. Namun 15 persen daerah di Jatim sudah memasuki musim kemarau pada bulan April," terangnya.
Angin kencang yang terjadi saat hujan di masa transisi ini bisa 35 – 50 kilometer per jam. Sehingga bisa menyebabkan terjadinya puting beliung. Lebih lanjut ia menjelaskan, angin kencang tersebut disebabkan oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) yang hitam dan menyebabkan arah angin menjadi kencang.
"Jadi saat masa transisi ini cukup banyak fenomena hidrometeorologi yang perlu diwaspadai karena bersifat membahayakan," kata Arif
Biasanya pertumbuhan awan CB terjadi saat siang, sore menjelang maghrib dan malam hari. "Dari situlah hujan bersamaan turun," imbuhnya. Bahkan menurutnya, kecepatan hembusan angin yang disebabkan oleh awan CB terutama di dalam awan tersebut bisa mencapai 75 knot. "Dan bisa turun ke daratan dengan radius 140 Kilometer," ujarnya.
Tak hanya itu, saat ini ia mengaku tren gelombang laut sudah mulai meningkat. Terutama di perairan selatan Jatim. Pihaknya telah mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi. "Jadi perlu diwaspadai juga pada masa transisi ini gelombang laut juga mengalami peningkatan," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Administrator