Edukasi soal lingkungan ini dilakukan sejak 10 tahun lalu. Namun, baru lima tahun kesadaran itu terbentuk. Hal ini pun digerakkan oleh warga setempat.
Mereka disebut aktivis lingkungan. Dipilih karena dianggap peduli pada lingkungan. Selain itu, tugas pokok aktivis lingkungan adalah mempelopori dan memberi contoh soal kepedulian terhadap lingkungan. "Setiap RT itu terdiri tujuh sampai 10 orang," ujar Ketua RW 12 Kelurahan Mojo Suyadi, Senin (26/12).
Kesadaran dan kepedulian pada lingkungan mengantarkan RW 12 menjadi juara Surabaya Smart City (SSC) 2022. Artinya, kampung ini berhasil mendominasi seluruh tujuh indikator penilaian oleh juri.
Suyadi mengatakan, semua nilainya maksimal. Hal ini bukan tanpa alasan. Suyadi sukses menjalankan 17 bank sampah aktif. Setiap bank sampah mampu menghasilkan sampah kering sebanyak 150 hingga 200 kilogram tiap bulan.
"Sehingga tinggal dikalikan dengan jumlah bank sampah di sini. Kalau secara rupiah, bisa menghimpun dana Rp 8 – 9 juta per bulan," paparnya.
Dia mencontohkan program pengelolaan lingkungan lainnya. Yakni, inovasi komposter mini berbahan galon bekas. Produk unggulan ini dinamai Komminas atau Komposter Mini by Asri.
"Sistemnya seperti pada umumnya. Khusus untuk sampah rumah tangga. Nama Asri diambil dari warga RT 6 yang mencetuskan ide itu. Namanya Asri Hardini,’’ katanya.
Setiap RT memiliki 50 komposter. Dari tiga RT yang mengikuti lomba itu berjumlah 150 buah. Komposter sederhana ini pun menghasilkan pupuk kompos dan cairan bernama lindi yang fungsinya sama seperti pupuk.
"Kita asumsikan satu galon itu mampu menampung 19 kilogram sampah. Tinggal kita kalikan dengan total jumlah komposter mini kita. Hasilnya pupuk banyak itu," terangnya.
Pria dengan latar belakang akutansi ini menjelaskan, Komminas itu menjadi salah satu terobosan di antara sekian banyak inovasi di Mojo. Produk ini yang membawa RW 12 menyabet juara I perhelatan SSC 2022. Menurut Suyadi, Komminas juga masuk indikator penting dalam penilaian, yakni indikator pengelolaan lingkungan.
Ada hal yang tidak kalah penting. Suyadi mengembangbiakkan maggot. Menurutnya, hewan ini berhasil untuk membantu penguraian sampah rumah tangga. "Sehingga kita turut membantu mengurangi beban sampah di TPA. Upaya kita dalam pengelolaan lingkungan ini mencapai 3,5 sampai empat ton sampah basah dan kering dalam satu bulan," jelasnya.
Suyadi optimistis programnya mampu mengurangi residu sampah di TPA. Seluruh programnya termasuk pengelolaan kompos cair dan padat. Selain itu, komposter besar dan sebagian menjadi ecobrick.
Tidak hanya unggul dalam pengelolaan lingkungan, RW 12 Kelurahan Mojo di indikator ekonomi kerakyatan memiliki 81 UMKM aktif. Mayoritas UMKM mempekerjakan warga sekitar yang tergolong masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
’’Contoh, UMKM Sinar Permata fokus elektroplating. Produk (dipasarkan) sampai luar negeri. Ada UMKM bidang makanan juga,’’ ungkapnya
Adapun indikator lainnya yakni pekarangan pangan lestari. Dalam programnya mengusung hidroponik dan tabulampot. Selain itu, Suyadi menggelorakan kembali tanaman obat keluarga (toga). "Ada barcode yang kalau di-scan muncul penjelasan jenis toga, nama, dan kasiatnya. Kalau panen kita bagi ke warga sendiri," katanya.
Satu lagi yang membanggakan adalah partisipasi warga RW 12. Saat penjurian berlangsung mulai sesi awal hingga akhir, 17 RT lainnya turut mendukung perlombaan tersebut. Suyadi mengomando untuk memberikan perwakilan. "Dari berbagai lapisan, mulai sektor UMKM, ketua RT, komunitas yang ada di sini, anak muda, penggerak PKK. Sampai pada penilaian akhir ada sekitar 320 orang,’’ kenangnya.
Partisipasi itulah yang menjadi bahan bakar untuk menjaga keberlanjutan program. Salah satu keinginan Suyadi adalah membuat semua RT, sebanyak 17 RT di RW 12, memiliki bank sampah. Selain itu, dia bakal menciptakan bank sampah award. "Rencananya penilaiannya mulai Februari dan puncaknya Agustus nanti. Ini baru pertama kali digelar," imbuhnya. (*/nur) Editor : Administrator