Aktivitas melaut dan mengolah secara tradisional sudah menjadi aktivitas mereka sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Susiawati, salah satu pedagang dan pengolah ikan yang ditemui Radar Surabaya mengatakan, hasil tangkapan ikan dari para nelayan akan dijual ke saya kemudian dikeringkan terlebih dahulu di bawah sinar matahari sebelum dipilih dan diolah untuk didistribusikan kepada pengepul ikan.
Susi juga menjelaskan, pendapatan yang tidak pasti, cuaca yang tidak bisa diprediksi membuat penghasilan mereka tak menentu.
“Saya yang nampung, hasil dari nelayannya dijual ke saya untuk diolah. Tidak mesti pendapatannya, kadang banyak kadang sedikit. Satu hari dapat 1 ton kadang juga dapat 1,5 ton. Kalau sekarang ini ada bulan kalau malam (bulan purnama), kalau tidak ada bulan sehari-harinya dapat banyak,” ujar wanita yang sudah 35 tahun menjadi pedagang ini.
Susi mengungkapkan, jika cuaca buruk seperti musim hujan akan sulit untuk mendapatkan kualitas ikan yang bagus. Dalam kondisi apapun ikan akan tetap dijemur walaupun keadaan hujan. “Meskipun hujan atau tidak ada matahari ya tetap dijemur tapi tidak bisa kering. Kalau cuacanya panas tambah bagus itu,” kata Susi.
Dalam situasi pandemi Susi juga mengatakan, tetap berjualan ikan walaupun sedikit. Hampir tidak ada pembeli saat awal pandemi, namun setelah waktu berlalu keadaan berangsur membaik.
“Alhamdulillah sekarang agak ramai, kalau dulu pada saat awal musim covid tidak ada orang ke sini. Tetap jual ikan walaupun sedikit, pandemi ikannya ikut pandemi”, canda wanita paruh baya ini.
Warga Kampung Nelayan lainnya, Rosyidah mengungkapkan, sebagai warga pesisir yang sudah hidup puluhan tahun di sana, para nelayan dan juga warga memang menggantungkan hidupnya kepada alam. Semua masih dilakukan secara tradisional, baik menangkap ikan di laut maupun mengolah ikan.
“Meskipun terkadang sulit, nelayan ombaknya lagi tinggi, dan para pengolah ikan di musim penghujan seperti ini, kami tetap bersyukur. Masih bisa lah dibuat makan sehari-hari,” tegasnya. (Aisha Aulia Dewi/Handian Nugraha/nur) Editor : Lambertus Hurek