SURABAYA - Kawasan Pecinan di sepanjang Jalan Kembang Jepun dan Jalan Karet terus dilakukan penataan. Tujuannya agar menjadi destinasi unggulan wisata kota lama.
Pengerjaan perbaikan terus dilakukan mulai dari Gapura Naga (Dragon Gate), pengecatan bangunan, mural hingga mengonsep rombong UMKM sesuai dengan kultur Pecinan yang nantinya akan menghiasai pusat kuliner Kembang Jepun.
Kepala Bidang Bangunan Gedung, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Kota Surabaya, Iman Krestian Maharhandono mengatakan bahwa saat ini pihaknya tengah menyelesaikan finishing Gapura Naga yang menjadi pintu masuk kawasan Kembang Jepun. Terutama untuk komposisi warna yang disesuaikan dengan kultur Pecinan.
"Rehabilitasi gapura sudah selesai untuk perbaikan naga yang keropos. Tinggal kita sesuaikan komposisi warna untuk pengecatan yang saat ini terus berjalan," jelas Iman, Kamis (25/8).
Pihaknya juga akan melakukan pengecatan untuk bangunan yang ada di kawasan Jalan Karet dan Kembang Jepun. Rencananya akan ada 8 bangunan di Jalan Karet dan 10 bangunan di Jalan Kembang Jepun yang akan dipercantik dengan pengecatan.
Bangunan tersebut yang nantinya jadi percontohan. Apalagi ada salah satu perusahaan cat yang akan membantu Pemkot Surabaya untuk mengecat bangunan lawas itu.
"Ini masih nunggu pengoplosan cat dari Jakarta karena pengecatan bangunan cagar budaya agak khusus. Jadi mereka (perusahaan cat) minta waktu minggu depan baru pengiriman cat," terangnya.
Untuk proses ini, pihaknya juga akan melibatkan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Surabaya untuk pemilihan cat yang cocok dengan bangunan. Karena setiap bangunan mempunyai karakteristik dan fungsi pada masanya masing-masing.
"Kita juga dengarkan (aspirasi) pemilik bangunan apa saja yang diinginkan untuk pengecatan ini. Termasuk tim ahli cagar budaya juga kami kerahkan untuk memberikan saran," imbuhnya.
Selain itu, pihaknya juga melakukan mockup atau membuat gambaran nyata terkait konsep gedung yang ada di Jalan Karet. "Kami baru mockup satu gedung di Jalan Karet," ujarnya.
Dalam pengerjaan ini, pihaknya juga membedakan aspek beautifikasi bangunan, aspek fungsional dan aspek wisata. Sehingga pengerjaan bisa berjalan secara pararel.
Selain itu, rombong-rombong UMKM juga dihadirkan secara unik yang disesuaikan dengan konsep Pecinan. Rencananya di tahap awal, Iman menyebut rombong akan ditempatkan sampai ke perempatan Jalan Slompretan.
"Ada sekitar 60 UMKM yang nanti (berjualan) mulai dari Jalan Karet setelah Gapura Naga. Juga ada parkiran. Setelah itu ada gate tambahan untuk stand. Skenario awal sampai Jalan Slompretan. Sembari kami evaluasi," ungkap Iman.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olah Raga (Disbudporapar) Surabaya, Wiwiek Widayati mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan penataan di kawasan Pecinan kota lama. Karena menurutnya penataan kawasan Pecinan tidak hanya secara fisik. Karena di situ ada set up stand UMKM, maka pihaknya juga akan melihat kebersihan dan pengelolaannya.
"Jadi sampai saat ini masih progres. Teman-teman masih berkomunikasi dengan banyak pihak untuk menata kelangsungan kawasan Pecinan ke depan," ungkap Wiwiek.
Menurut dia, pengembangan kawasan Pecinan juga akan mengoptimalkan konektivitas destinasi. "Jadi kami juga pikirkan destinasi penunjang yang akan jadi connecting-nya untuk kita optimalkan," terangnya.
Salah satunya, pihaknya bakal melengkapi dengan transportasi becak untuk melayani para wisatawan. Dengan menumpang becak, pengunjung dapat menikmati rute destinasi wisata malam di kawasan Kya-kya hingga kota lama.
"Nanti ada becak yang bisa melayani rute destinasi wisata di Kya-kya itu. Selain street food juga ada kesenian yang kita tampilkan. Misalnya pertunjukan Barongsai, Liang-Liong dan musik ala Chinese," pungkasnya. (rmt/jay)