Ketika hujan kawasan Sungai Kalianak di Kecamatan Krembangan dan Asemrowo itu sering dilanda banjir. Karena itu, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya berencana untuk melakukan normalisasi tahap pertama sepanjang 688 meter.
Sub Koordintor Pemeliharaan Saluran, Ahmad Idi Pratiknyo mengatakan, pihaknya akan melakukan normalisasi Sungai Kalianak setelah sosialisasi kepada warga. Pasalnya, ada beberapa persil yang dikorbankan untuk mempermudah alat berat masuk.
"Ketika ada sudah ada titik temu dengan warga yang kena kepras baru kita masukkan alat berat untuk mengeruk saluran," kata Idi, Kamis (10/3).
Pihaknya telah beberapa kali hendak melakukan pengerukan saluran. Namun, selalu ditolak oleh warga setempat. Maklum, di sepanjang bibir sungai masih banyak bangunan permanen dan semipermanen. Tumpukan sampah juga banyak. Sehingga mempersulit proses pengerukan.
"Jadi, kami akan keruk dulu sampahnya. Kurang lebih ketebalan sampah tiga meter. Di bawahnya juga banyak sedimen yang numpuk," terangnya.
Idi mengungkapkan, nantinya ada ratusan persil yang terdampak normalisasi Sungai Kalianak. Ratusan persil itu berada di Kecamatan Asemrowo dan Kecamatan Krembangan. "Jumlah persil yang terdampak di Asemrowo ada 106 persil, sedangkan di Kecamatan Krembangan 98 persil," ungkapnya.
Estimasi pengerukan pada tahap pertama ini sekitar dua bulan. "Kalau semua sudah klir, ya butuh dua bulan di tahap pertama," ujarnya. Rencananya normalisasi dilakukan di Jembatan Jalan Kalianak-Jembatan Kalianak Barat Gang Tambak dengan panjang 688 meter. Sedangkan lebar 14 meter, ditarik dari titik koordinat as sungai masing-masing tujuh meter.
Lurah Morokrembangan Hayati mengatakan, pihaknya sudah membicarakan dengan pengurus RT/RW yang terdampak normalisasi sungai. Di wilayah Morokrembangan ada dua RW, yakni RW 6 dan 7. "Yang terdampak sekitar 275 rumah yang sudah didata," ujar Hayati.
Sementara itu, Sekretaris Komisi C Agung Prasdjo mengatakan bahwa normalisasi Sungai Kalianak ini sudah lama diwacanakan. Namun, ada banyak permasalahan sehingga baru tahun ini dilakukan pengerukan. "Banyak penduduk yang KTP-nya Surabaya. Kalau dari awal ada pencegahan, maka normalisasi ini sudah dilakukan sejak lama," katanya.
Agung mendorong Pemkot Surabaya untuk segera menuntaskan normalisasi tahap pertama dengan mengeruk sampah yang menumpuk. Dan, ini tentu butuh ketegasan pemkot dan kesadaran warga demi lancarnya normalisasi. "Target pertama, hilangkan sampahnya dulu. Jadi bersih dulu biar tidak kumuh. Kami terus mengawal agar normalisasi ini bisa berjalan," pungkasnya. (rmt/rek)
Editor : Lambertus Hurek