Pakar sosiologi Universitas Airlangga Bagong Suyanto mengatakan, digitalisasi memang sudah masuk ke semua sendi-sendi kehidupan masyarakat. Dan digitalisasi ini menciptakan gaya hidup baru di masyarakat.
“Apalagi sejak pandemi, digitalisasi ini massif sekali. Sekolah online, WFH (work from home), taksi online, belanja online, sampai beli makan pun bisa online,” katanya.
Kemudahan, efisiensi waktu, dan praktis adalah alasan utama masyarakat memanfaatkan teknologi digital. Selain juga tuntutan digitalisasi dan modernisasi yang terus berkembang dinamis.
“Bayangkan saja, mau vaksin tak perlu antri, cukup daftar lewat HP. Mau beli tiket bioskop juga lewat HP. Hujan-hujan mau beli makan malas keluar, ya tinggal pencet-pencet HP, ditunggu makanan datang sendiri. Begitu mudah,” imbuhnya.
Hal yang sama diungkapkan konsultan digital marketing Surabaya Muhammad Isra Anwar. Menurutnya gaya hidup digital menjadi lifestyle baru yg kian mendominasi. Digital lifestyle bahkan sudah masuk ke dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat Surabaya. “Artinya, kehidupan masyarakat tak bisa lepas dari budaya digital,” ujarnya.
Digital lifestyle menggambarkan gaya hidup modern yang sarat dengan teknologi informasi. Sejumlah research menunjukkan bahwa di awal 2022, sekitar 201,8 juta orang Indonesia memiliki akses ke internet. Jumlah itu menunjukan bahwa pandemi ikut mempercepat gaya hidup digital.
"Data itu cukup besar memang. Artinya kan di atas 70 persen masyarakat Indonesia mengakses internet. Jadi secara nggak sadar setiap orang sudah aktif untuk masuk dunia digital," paparnya.
Kota Surabaya memang sangat mendukung digitalisasi ini, mulai layanan pemerintahan, kesehatan, pendidikan, investasi hingga berbagai sektor lainnya. (far/nur) Editor : Lambertus Hurek