Puluhan rupang berukuran mini hingga besar mulai dicuci menggunakan air kembang. Ritual bersih-bersih itu dilakukan oleh pengurus Vihara. Ini dilakukan dalam rangka menyambut perayaan Imlek yang jatuh pada 1 Februari mendatang.
"Jadi memang sejak zaman Buddha sudah masuk dalam ajaran Buddha. Hal itu termasuk dari tujuh bagian puja. Sebab dalam Buddha ini ada aliran Theravada, Mahayana dan Tantrayana," ujar Romo Abhaya kepada Radar Surabaya, Senin (24/1).
Menurutnya, kegiatan bersih Rupang seperti itu lebih banyak diulas oleh aliran Mahayana dan Trantayana. Sementara untuk aliran Theravada tak banyak mengulasnya. Salah yang ajaran yang terdapat dalam tujuh bagian puja adalah membersihkan altar.
Sehingga sebelum menggelar sembahyang dan doa, maka melakukan bersih-bersih altar terlebih dahulu. Misalnya dengan memakai kemuceng dan dilap memakai kain bersih. Setelah itu, baru menyajikan offering atau persembahan.
"Ya pelita, buah-buahan, makanan dan pokok persembahan yang lainnya. Setelah itu baru kegiatan puja, yaitu meditasi dan membaca doa hingga mendengarkan ceramah atau khutbah Dhamma," paparnya.
Sebenarnya, kegiatan bersih-bersih altar tak hanya dilakukan setahun sekali. Namun setiap hari. Akan tetapi saat menjelang Imlek, ritual bersih-bersih tersebut sudah menjadi tradisi tahunan di Vihara.
Sebab pembersihan setiap hari tak dapat melibatkan banyak orang. Namun saat menjelang Imlek, bersih-bersih melibatkan banyak orang. "Ya sebenarnya kalau dikaitkan dengan tradisi enggak ada habisnya. Misalnya berkaitan dengan naiknya dewa dewi dan sebagainya," jelasnya. (far/rak) Editor : Lambertus Hurek