Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Dinkes Surabaya Diminta Gerak Cepat Tangani HIV/AIDS

Lambertus Hurek • Senin, 17 Januari 2022 | 03:38 WIB
RISIKO TINGGI HIV: Petugas mengamankan sejumlah PSK di kawasan Kembang Kuning, Surabaya. (ISTIMEWA)
RISIKO TINGGI HIV: Petugas mengamankan sejumlah PSK di kawasan Kembang Kuning, Surabaya. (ISTIMEWA)
SURABAYA - Kasus HIV/AIDS di Surabaya menunjukkan kenaikan. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur menunjukkan bahwa Kota Surabaya menjadi kota dengan kasus baru HIV/AIDS tertinggi se-Jawa Timur pada tahun 2021. Tercatat sebanyak 323 pasien AIDS baru di Kota Surabaya, disusul Kabupaten Banyuwangi 186, dan Jember sebanyak 174.

Dengan kenaikan kasus tersebut, anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya Tjutjuk Supariono mengingat Dinkes Kota Surabaya untuk segera melakukan penanganan, agar kasus HIV/AIDS tidak kembali merebak. Apalagi di tahun 2030 mempunyai target three zero. Artinya tidak ada infeksi baru HIV, tidak ada kematian karena AIDS, dan tidak ada diskriminasi di tahun 2030.

"Saya menilai bahwa informasi dan sosialisasi terkait HIV/AIDS pada masa pandemi ini tidak berjalan dengan baik, terutama pendidikan seksual untuk anak-anak sekolah," ujar Tjutjuk, Minggu (16/1).

Meski demikian, ia mengaku memahami fokus utama Dinkes Kota Surabaya yakni penanganan Covid-19. Namun menurutnya bukan berarti pemerintah lalai atau mengesampingkan permasalah lainnya. Apalagi kasus HIV/AIDS di Kota Surabaya ini tertinggi di Jawa Timur.

Bahkan, dari laporan Ditjen P2P Kementerian Kesehatan, selama pandemi Covid-19 tahun 2020, telah terdeteksi 50.626 kasus HIV/AIDS. Angka ini berpotensi lebih tinggi. Pasalnya estimasi kasusnya adalah sebanyak 640.000. Kasus yang tidak terdeteksi ini dapat menjadi rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual yang berisiko. Tercatat kasus HIV tertinggi adalah umur 20-29 tahun.

Maka, dari sini bisa dilihat bahwa penularan HIV sudah terjadi pada masa remaja atau anak yang umurnya kurang dari 20 tahun. "Jadi bisa dikatakan bahwa pendidikan seksual sejak dini yang kurang efektif dan juga kurang didukung oleh media massa. Terutama terkait penggunaan kontrasepsi yang menyebabkan kebijakan kita menjadi tidak tegas dan terkesan abu-abu," paparnya.

Karena itu, ia meminta Dinkes dan Dispendik Kota Surabaya untuk melakukan sosialisasi kepada sekolah sebagai cara pencegahan kasus. Karena usia remaja terutama anak-anak sangat rentan untuk berhubungan di luar nikah atau mendapatkan tindakan diskriminasi, pelecehan atau kekerasan seksual.

"Perlu digencarkan sosialisasi ini. Tidak hanya untuk mengurangi angka HIV, namun juga untuk mematahkan stigma dan diskriminasi pada ODHA,” pungkasnya. (rmt/nur) Editor : Lambertus Hurek
#deteksi HIV Surabaya #Dinkes Surabaya HIV AIDS #sosialisasi AIDS Surabaya #HIV AIDS Surabaya