"Hal yang sulit dicapai, meskipun bukan hal yang mustahil. Dibutuhkan effort yang tinggi dan strategi yang tepat dan efektif," ujarnya, Minggu (17/10).
Ia mengatakan stunting sangat berhubungan dengan prestasi pendidikan yang buruk. Anak-anak stunting menghadapi kemungkinan yang lebih besar untuk tumbuh menjadi dewasa yang kurang pendidikan, kurang sehat dan lebih rentan terhadap penyakit tidak menular.
"Stunting bukan disebabkan terutama oleh faktor genetik yang tidak dapat diperbaiki seperti diduga oleh sebagian masyarakat, melainkan oleh karena faktor lingkungan hidup yang dapat diperbaiki," katanya.
Andriyanto menambahkan salah satu masalah yang dihadapi remaja Indonesia adalah masalah gizi mikronutrien, yakni sekitar 12 persen remaja laki-laki dan 23 persen remaja perempuan mengalami anemia, yang sebagian besar diakibatkan kekurangan zat besi.
Menurut dia, anemia di kalangan remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki. "Anemia pada remaja berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja dan produktifitas," katanya.
Dampak anemia pada remaja putri dan status gizi yang buruk memberikan kontribusi negatif bila hamil pada usia remaja ataupun saat dewasa yang dapat menyebabkan kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah, kesakitan bahkan kematian pada ibu dan bayi. "Program pemerintah khusus untuk pencegahan anemia remaja saat ini belum ada," jelasnya. (mus/rak) Editor : Lambertus Hurek