Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Remaja Perempuan Rawan Terkena Anemia dan Kurang Gizi

Lambertus Hurek • Senin, 18 Oktober 2021 | 13:03 WIB
Kurang gizi yang berdampak pada stunting jadi perhatian pemerintah pusat dan daerah. (ILUSTRASI)
Kurang gizi yang berdampak pada stunting jadi perhatian pemerintah pusat dan daerah. (ILUSTRASI)
SURABAYA - Ketua Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ahli Gizi Indonesia bidang Hukum Dr Andriyanto menyebut tingginya prevalensi stunting di Indonesia ini menunjukkan masalah kesehatan yang cukup serius. Presiden Joko Widodo menegaskan salah satu agenda penting sampai tahun 2024 adalah mempercepat penurunan angka stunting 27,6 persen pada tahun 2020 menjadi 14 persen pada 2024.

"Hal yang sulit dicapai, meskipun bukan hal yang mustahil. Dibutuhkan effort yang tinggi dan strategi yang tepat dan efektif," ujarnya, Minggu (17/10).

Ia mengatakan stunting sangat berhubungan dengan prestasi pendidikan yang buruk. Anak-anak stunting menghadapi kemungkinan yang lebih besar untuk tumbuh menjadi dewasa yang kurang pendidikan, kurang sehat dan lebih rentan terhadap penyakit tidak menular.

"Stunting bukan disebabkan terutama oleh faktor genetik yang tidak dapat diperbaiki seperti diduga oleh sebagian masyarakat, melainkan oleh karena faktor lingkungan hidup yang dapat diperbaiki," katanya.

Andriyanto menambahkan salah satu masalah yang dihadapi remaja Indonesia adalah masalah gizi mikronutrien, yakni sekitar 12 persen remaja laki-laki dan 23 persen remaja perempuan mengalami anemia, yang sebagian besar diakibatkan kekurangan zat besi.

Menurut dia, anemia di kalangan remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki. "Anemia pada remaja berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja dan produktifitas," katanya.

Dampak anemia pada remaja putri dan status gizi yang buruk memberikan kontribusi negatif bila hamil pada usia remaja ataupun saat dewasa yang dapat menyebabkan kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah, kesakitan bahkan kematian pada ibu dan bayi. "Program pemerintah khusus untuk pencegahan anemia remaja saat ini belum ada," jelasnya.  (mus/rak) Editor : Lambertus Hurek
#lawan stunting di jatim #bahaya stunting anak dan remaja #remaja putri rawan anemia #stunting di jatim