Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tradisi Potong Gigi, Adat Sakral sebagai Tanda Kedewasaan

Administrator • Senin, 9 Juli 2018 | 22:37 WIB
Tradisi Potong Gigi, Adat Sakral sebagai Tanda Kedewasaan
Tradisi Potong Gigi, Adat Sakral sebagai Tanda Kedewasaan

SURABAYA - Sebanyak 111 remaja putra dan putri mengikuti pelaksanaan upacara tradisi potong gigi adat Bali atau yang biasa di sebut mesanggih, mepandes, dan matatah. Ini adalah salah satu adat sakral dan wajib di lakukan oleh setiap remaja umat Hindu yang mulai beranjak dewasa. 


I Made Wisana selaku ketua pelaksanaan upacara menjelaskan, potong gigi di sini jangan dibayangkan memotong separuh gigi. Yang dipotong hanya sedikit. Itupun hanya gigi taring dan gigi seri tidak semua gigi. 


“Jadi tidak semua seperti yang di banyangkan. Cuma empat gigi taring, dan dua gigi seri, ini hanya beberapa saja untuk menghilangkan sifat-sifat buruk dari setiap pribadi,” ujarnya saat di temui di Pura Agung Jagat Karana di Jalan Ikan Lumba-lumba , Minggu (8/7).


Upacara potong gigi ini biasanya dilakukan oleh anak remaja yang menginjak dewasa. Tandanya jika perempuan, maka dia sudah mulai mengalami menstruasi. Jika laki-laki, ketika suaranya sudah mulai berubah.


Potong gigi ini bertujuan untuk membersihkan diri dari sifat buruk, yang disimbolkan dengan memotong sedikit gigi taring. Selain itu, potong gigi ini juga bertujuan mengantarkan anak menuju niskala, yakni hidup sebagai orang dewasa.


Upacara adat yang di lakukan setiap lima tahun ini ada beberapa perlengkapan yang cukup banyak, di antaranya pahat, kikir, batu asahan, tebu, kayu dadap, sirih, madu, kunyit, kelapa gading, dan banyak lagi. 


Acara yang dimulai pada pukul 08.00 ini tidak hanya diikuti oleh warga Surabaya saja, tetapi juga dari berbagai daerah lainnya seperti Jakarta, Tuban, Batam, Gresik, dan masih banyak lainnya. “Tadi dari Bali pun juga ada yang ikut, karena ada sebagian keluarganya di Surabaya, jadi ikut upacara disini,” imbuhnya.


Wisana menambahkan, pada tahun ini juga ada dua dokter spesialis gigi yang di persiapkan karena alasan kebersihan. “Meskipun ada dokter tetapi tidak meninggalkan tradisi adat yang ada, karena setiap umat Hindu wajib melaksanakannya,” tuturnya. (gin/nur)


Editor : Administrator