Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Komunitas Save Street Child (SSC) Sidoarjo Kumpulkan Anak Jalanan

Lambertus Hurek • Jumat, 1 Desember 2017 | 15:20 WIB
SSC bina anak jalanan
SSC bina anak jalanan

Sering ditemui ada anak jalanan di lampu merah. Bagi sebagian orang, keberadaannya cukup mengganggu, namun tidak demikian dengan komunitas Save Street Child (SSC) Sidoarjo. Sekumpulan anak muda ini justru menjaring anak-anak jalanan ini untuk diajak belajar bersama.


 


MUS PURMADANI


Wartawan Radar Sidoarjo


 


“KAMI ingin memberikan wadah kepada mereka untuk mengkespresikan diri, sekaligus memberikan pendidikan agar mereka tidak dipandang sebelah mata,” ujar Dwi Prasetyo, penggagas SSC Sidoarjo.


Pemuda 25 tahun ini mulai menggagas SSC pada  24 Mei 2015 lalu. Pras, demikian ia biasa dipanggil, mengaku sebelumnya ia aktif di komunitas SSC Surabaya. Namun karena tinggal di Kota Delta dan melihat banyak pula anak jalanan, ia bersama teman-temannya memutuskan bersama teman-teman untuk mendirikan SSC Sidoarjo.


Anak kedua dari dua bersaudara pasangan (alm) Sumito dan Rohayati mengungkapkan awalnya kesulitan mendekati anak-anak jalanan ini. “Tapi sekarang justru sekarang mereka yang mencari kami kalau sedang tidak ada kegiatan,” ujarnya.


Dibantu pengajar SSC dari Surabaya serta teman-temannya, setiap Minggu malam mereka berkumpul di dekat lampu lalu lintas Alun-Alun Sidoarjo. “Kalau minggu pukul 16.00 kumpulnya di di Lemahputro, belakang Stasiun Sidoarjo,” jelasnya.


Di situlah alumnus salah satu universitas swasta di Surabaya ini bersama teman-temannya bergantian mengajari anak-anak jalanan tersebut. Menurutnya, saat ini ada 25 anak yang mau belajar di SSC Sidoarjo, mulai usia 4 tahun hingga 17 tahun. “Rata-rata mereka sekolah dan untuk biaya sekolahnya itu mereka mengamen,” paparnya.


Pras menambahkan mengajar anak jalanan juga membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Karena biasa bekerja membuat anak-anak lebih tergiur untuk mencari uang daripada peduli pada pendidikan. Mindset itulah yang coba diubahnya bahwa pendidikan itu sangat penting.



Ia menyatakan memiliki suka duka. Di antaranya pernah ditegur oleh polisi karena kegiatannya tidak ada izin keramaian. Setelah memberikan penjelasan, ternyata tidak ada masalah. “Kalau sukanya, jika ketemu anak-anak ini rasanya seperti mendapatkan spirit,” pungkasnya. (*/jee) 

Editor : Lambertus Hurek