Pencemaran bakteri e-coli di sungai sudah terlampau tinggi. Untuk menekan jumlah bakteri yang terdapat pada feces manusia itu, Pemkab Sidoarjo bersiap menggelontorkan Rp 15,3 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk membangun jamban ramah lingkungan.
Bantuan itu akan disalurkan untuk masyarakat miskin, terutama yang tinggal di bantaran sungai. Namun pembangunan jamban secara masal ini bakal diikuti penertiban jamban di sungai-sungai atau yang biasa disebut jamban helikopter. Dengan begitu kualitas sanitasi warga bakal meningkat.
Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Sidoarjo Sulaksono menerangkan bahwa proyek ini merupakan kegiatan tahunan. Pada 2017 lalu sebenarnya sudah dianggarkan Rp 4,5 miliar. Namun terpaksa digagalkan karena terganjal masalah desain jamban.
“Tahun lalu pakai septic tank, ternyata tidak efektif karena air tampungan tetap meresap ke tanah," ucap mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) itu.
Menurut Sulaksono, air resapan itu mencemari sumur warga. Maklum, belum semua warga Sidoarjo teraliri PDAM. Masih ada yang menggunakan air sumur. Karenanya, teknologi bio septic tank bakal digunakan untuk rencana jamban ini.
Untuk membangun satu jamban membutuhkan anggaran sebanyak Rp 5 juta. Angka itu sudah termasuk water closet (WC), saluran, dan bio septic tank. Teknologi baru ini telah dilengkapi sistem disinfektan. “Sehingga buangannya tidak menyebabkan pencemaran lingkungan,” imbuhnya
Sulaksono menambahkan, jamban helikopter masih ditemui di beberapa sungai di Kota Delta. Meski jumlahnya sudah tidak sebanyak dulu. Pembangunan jamban ini dilakukan secara merata di 18 kecamatan di Sidoarjo. (nis/jee)
Editor : Lambertus Hurek