Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Sentuhan Hansi Flick Ubah Barcelona Jadi Keluarga Tak Terkalahkan, Juara La Liga!

Rahmat Adhy Kurniawan • Selasa, 12 Mei 2026 | 00:50 WIB
Hansi Flick membangun Barcelona seperti keluarga. (The Guardian)
Hansi Flick membangun Barcelona seperti keluarga. (The Guardian)

RADAR SURABAYA – Kisah emosional mewarnai keberhasilan FC Barcelona menjuarai La Liga musim 2025/2026.

Pelatih Hansi Flick sukses mengantarkan timnya menjadi juara dengan cara yang menyentuh sekaligus penuh makna.

Pada hari penentuan gelar, tepatnya saat laga El Clásico melawan Real Madrid, Flick menerima kabar duka. Sang ayah meninggal dunia pada pagi hari sebelum pertandingan berlangsung.

Hansi Sr wafat pada usia 82 tahun setelah lama sakit. Di hari yang sama ketika Barcelona berpeluang mengunci gelar liga—El Clasico pertama kembali di Camp Nou—Flick sempat bimbang harus bersikap bagaimana.

Alih-alih menutupinya, Flick memilih jujur kepada para pemain. Keputusan itu justru menjadi titik balik emosional yang memperkuat solidaritas tim.

Baca Juga: Barcelona Juara LaLiga 2025/2026 Usai Kalahkan Real Madrid di El Clasico 2-0

 “Saya merasa tim ini seperti keluarga. Apa yang mereka lakukan setelah tahu kabar itu sungguh luar biasa,” ujar Flick.

Tak satu pun dari mereka akan melupakannya. Para pemain Barcelona tiba di hotel Torre Melina pada siang hari, tempat pelatih yang mereka anggap sebagai sosok ayah memberi kabar duka tersebut.

 Malam harinya, mereka merayakan gelar juara bersama, gelar yang juga dipersembahkan untuknya.

 Barcelona Tak Terbendung

Barcelona tampil dominan saat mengalahkan Real Madrid 2-0 di Camp Nou. Kemenangan tersebut memastikan gelar juara dengan keunggulan jauh di puncak klasemen.

Tim Catalan bahkan unggul hingga 14 poin dari rival terdekat, menegaskan dominasi mereka sepanjang musim.

Dengan performa konsisten, Barcelona juga mencatatkan rekor impresif dengan memenangi 22 dari 24 laga terakhir.

Keberhasilan ini terasa spesial karena diraih dengan skuad muda. Rata-rata usia pemain hanya 24 tahun, termasuk bintang muda seperti Lamine Yamal yang menjadi sorotan sepanjang musim.

Hansi Flick tidak hanya membangun tim juara—ia membangun keluarga.
Hansi Flick tidak hanya membangun tim juara—ia membangun keluarga.

Untuk pertama kalinya dalam 94 tahun, El Clasico benar-benar menentukan gelar La Liga.

Namun, dominasi Barcelona dalam kemenangan 2-0 atas Real Madrid menegaskan bahwa gelar itu sebenarnya sudah hampir pasti sejak lama.

Perayaan berlangsung meriah di Camp Nou. Panggung didirikan, trofi diserahkan langsung di malam kemenangan, dan para pemain merayakan dengan penuh kegembiraan. 

Namun yang paling mencolok adalah bagaimana mereka terus mendekat dan merangkul sang pelatih.

 Filosofi “Keluarga” Jadi Kunci

Sejak datang pada 2024, Flick membawa perubahan besar dalam kultur tim. Ia menanamkan nilai kebersamaan, disiplin, dan rendah hati.

Pesannya sederhana namun kuat: ego adalah musuh utama kesuksesan.

Di saat rival seperti Real Madrid mengalami konflik internal—termasuk dinamika pemain seperti Vinícius Júnior—Barcelona justru tampil semakin solid.

Para pemain saling mendukung, baik di dalam maupun luar lapangan. Hal itu terlihat jelas saat mereka merespons kabar duka sang pelatih.

Dari Krisis ke Dominasi

Setelah sempat tertinggal lima poin dari Madrid pada Oktober, Barcelona bangkit luar biasa.

Mereka memenangkan 22 dari 24 pertandingan berikutnya dan unggul jauh di puncak klasemen. 

Baca Juga: Ratusan Siswa Keracunan MBG, SPPG Tembok Dukuh Surabaya Minta Maaf, Menu Daging Krengsengan Baru Pertama Dibuat

Ketika El Clásico kembali digelar, Barcelona sudah unggul 11 poin. Kemenangan tersebut memastikan gelar dengan selisih 14 poin, menyisakan tiga pertandingan.

“Menjuarai liga dua kali berturut-turut itu tidak normal,” kata Flick.

Namun bagi Marcus Rashford, hal itu justru biasa. “Dia menang di mana pun dia melatih. Tapi melakukannya dengan tim muda seperti ini tidak mudah,” ujarnya.

Gelar untuk Sang Pelatih

Kemenangan ini bukan sekadar trofi. Para pemain mempersembahkan gelar untuk Flick dan keluarganya.

“Ini untuk Hansi dan keluarganya,” kata Pedri.

“Ia seperti ayah bagi saya,” tambah Gavi.

Sementara Raphinha menyebut bahwa sepak bola telah memberi mereka sebuah keluarga baru.

Momen paling emosional terjadi saat para pemain merayakan kemenangan dengan memeluk Flick di tengah lapangan.

Tidak ada sekat antara pelatih dan pemain—semuanya menyatu dalam satu ikatan kuat.

 Era Baru Barcelona

Gelar ini menjadi bukti keberhasilan proyek jangka panjang Barcelona bersama Flick. Bahkan, mereka berpeluang menutup musim dengan raihan hampir 100 poin—sebuah pencapaian luar biasa.

“Yang terpenting adalah bagaimana mereka bermain untuk satu sama lain. Itu yang membuat saya bangga,” ujar Flick.

Kesuksesan ini menegaskan bahwa Barcelona bukan hanya tim hebat secara teknis, tetapi juga kuat secara mental dan emosional.

Di balik gemerlap trofi dan pesta juara, ada kisah kehilangan, empati, dan kebersamaan yang menjadi fondasi kesuksesan Barcelona musim ini.

Hansi Flick tidak hanya membangun tim juara, ia membangun keluarga. Dan dari situlah, segalanya bermula.(rak) 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
#Camp Nou #laliga #El Clasico #barcelona #Hansi Flick