RADAR SURABAYA – Langkah Timnas Indonesia U-17 di Piala AFF U-17 2026 harus terhenti di fase grup.
Garuda Muda gagal melaju ke semifinal setelah hanya mampu bermain imbang 0-0 melawan Vietnam pada laga terakhir Grup A di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Minggu (19/4).
Hasil ini membuat Indonesia finis di luar dua besar klasemen akhir Grup A. Vietnam keluar sebagai juara grup dengan tujuh poin,
sedangkan Malaysia mengamankan posisi runner-up dengan enam poin. Kedua tim tersebut berhak melangkah ke babak semifinal.
Vietnam Lebih Dominan di Awal Laga
Sejak peluit kick-off dibunyikan, Indonesia langsung tampil menekan dengan permainan ofensif.
Baca Juga: Viral! Dugaan Jual Beli Pekerjaan Libatkan Mantan Camat, DPRD Surabaya Desak Bersih-Bersih ASN
Namun, Vietnam mampu mengantisipasi agresivitas tersebut dan justru tampil lebih efektif melalui serangan balik cepat.
Peluang emas pertama hadir pada menit ke-7 lewat skema serangan dari sisi sayap. Beruntung, kiper Indonesia Abdillah Ishak tampil sigap dan berhasil menggagalkan peluang berbahaya tersebut.
Dalam 15 menit awal, Vietnam tampil lebih dominan dan terus menekan lini pertahanan Indonesia.
Sementara itu, Garuda Muda kesulitan mengembangkan permainan dan hanya mencatatkan satu peluang melalui tendangan Mierza Firjatullah.
Cedera Mierza Jadi Titik Balik
Petaka bagi Indonesia datang pada pertengahan babak pertama. Mierza Firjatullah mengalami cedera saat mencoba melakukan serangan balik dan harus ditarik keluar lapangan.
Masuknya Sean Rahman Kastor belum mampu memberikan perubahan signifikan. Kehilangan Mierza membuat daya gedor Indonesia menurun drastis.
Selain itu, faktor pengalaman juga terlihat memengaruhi performa para pemain muda Indonesia yang kerap terburu-buru dalam mengambil keputusan.
Baca Juga: Bangkit dari Cedera Parah, Alexander Isak Siap Gila-Gilaan di Derby Merseyside
Memasuki 10 menit akhir babak pertama, serangan Indonesia cenderung sporadis dan mudah dipatahkan oleh lini belakang Vietnam yang tampil disiplin. Hingga turun minum, skor tetap bertahan 0-0.
Babak Kedua: Indonesia Tertekan, Lini Belakang Kerja Keras
Pada babak kedua, Vietnam tetap menunjukkan dominasi. Mereka mengubah pendekatan dengan bermain lebih pragmatis, memanfaatkan bola panjang dan kecepatan pemain untuk menembus pertahanan Indonesia.
Selama 15 menit awal babak kedua, Indonesia lebih banyak bertahan dan mengandalkan serangan balik yang kurang efektif. Tekanan Vietnam membuat lini belakang Garuda Muda bekerja ekstra keras.
Peluang terbaik Indonesia baru tercipta pada menit ke-63. Girly Andrade Guevara melepaskan tembakan jarak jauh setelah mendapatkan ruang terbuka, namun bola masih melambung tipis di atas mistar gawang.
Abdillah Ishak Tampil Gemilang
Kiper Abdillah Ishak menjadi salah satu pemain terbaik dalam laga ini. Ia kembali melakukan penyelamatan krusial pada menit ke-68 dengan menepis tembakan keras Nguyen Van Duong yang mengarah ke gawang.
Penampilan gemilang Abdillah membuat Indonesia tetap bertahan dalam permainan, meskipun terus berada di bawah tekanan Vietnam.
Serangan Akhir Tak Membuahkan Hasil
Memasuki 10 menit akhir pertandingan, Indonesia mulai berani keluar menyerang. Garuda Muda sempat mengurung pertahanan Vietnam dan menciptakan beberapa peluang.
Namun, masalah klasik kembali muncul: buruknya akurasi umpan dan kurangnya ketenangan di sepertiga akhir lapangan. Sejumlah peluang gagal dimaksimalkan menjadi gol.
Hingga masa injury time berakhir, skor tetap tidak berubah. Pertandingan ditutup dengan hasil imbang 0-0 yang memastikan Indonesia tersingkir dari turnamen.
Baca Juga: Keberadaan Tidak Ditemukan dalam Survei DTSEN, 147 Ribu KK Warga Surabaya Masih Nonaktif
Evaluasi dan Catatan Penting
Kegagalan ini menjadi pelajaran berharga bagi Timnas Indonesia U-17. Beberapa aspek penting yang perlu dibenahi antara lain:
Ketenangan dalam penguasaan bola
Efektivitas penyelesaian akhir
Konsistensi permainan sepanjang laga
Pengalaman bertanding di level internasional
Meski gagal melangkah lebih jauh, pengalaman di Piala AFF U-17 2026 tetap menjadi modal penting bagi para pemain muda untuk berkembang di masa depan.
Dengan pembinaan yang tepat, generasi ini diharapkan mampu bangkit dan memberikan prestasi lebih baik pada turnamen berikutnya.
Dan yang paling penting, PSSI harus berpikir ulang untuk mencari sosok yang pas untuk menangani anak-anak muda ini.
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan